Harga Batu Bara Melesat, Risiko Pasokan Energi Global Meningkat
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara melesat pada Rabu (11/3/2026). Kenaikan dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu lonjakan harga gas serta kekhawatiran gangguan pasokan energi global melalui Selat Hormuz.
Harga batu bara Newcastle untuk Maret 2026 melesat US$ 1,55 ke level US$ 133,1 per ton. Sedangkan April 2026 melonjak US$ 3,8 menjadi US$ 134,9 per ton. Sementara itu, Mei 2026 melejit US$ 3,95 menjadi US$ 135,75 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Maret 2026 terpangkas US$ 0,45 menjadi US$ 121,4. Sedangkan, April 2026 naik US$ 1,15 menjadi US$ 124,85. Sedangkan pada Mei 2026 menanjak US$ 1,55 menjadi US$ 126,05.
Dikuip dari Anadolu, ketegangan yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, serta meningkat setelah balasan dari Teheran, memperbesar risiko terhadap aliran energi di kawasan tersebut. Situasi ini mendorong kenaikan harga gas alam dan biaya pengiriman, sekaligus memicu peralihan bahan bakar yang membuat harga batu bara global melonjak tajam.
Kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan minyak dan gas alam yang melewati Selat Hormuz turut mengerek harga gas. Pada saat yang sama, meningkatnya biaya pengiriman serta keterlambatan logistik juga ikut mendorong kenaikan harga batu bara.
Kondisi tersebut tercermin dari lonjakan harga di pasar batu bara acuan dunia, yakni Newcastle Coal Benchmark dan API2 Rotterdam Coal Benchmark.
Regional Lead untuk Türkiye dan Kaukasus di Ember Ufuk Alparslan mengatakan, biaya listrik dari pembangkit berbahan bakar gas alam di Uni Eropa meningkat sekitar 51% pada Maret.
Menurut dia, di sejumlah negara batu bara dan gas dapat saling menggantikan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Ketika pembangkitan listrik berbasis gas menjadi lebih mahal, produsen listrik cenderung beralih menggunakan batu bara.
“Peralihan bahan bakar ini kemungkinan turut mendorong kenaikan harga batu bara di tengah melonjaknya harga gas. Namun hal ini seharusnya dilihat sebagai gejala volatilitas bahan bakar fosil, bukan sebagai pembenaran atas pentingnya batu bara secara strategis,” ujarnya.
Alparslan juga menekankan, pembangkit listrik berbasis batu bara sebenarnya menurun tahun lalu, bahkan di negara-negara yang sangat bergantung pada batu bara seperti China, India, Jerman, dan Polandia.
Volatilitas Harga Bahan Bakar
Menurut Alparslan, teknologi energi terbarukan semakin murah dan semakin andal dari tahun ke tahun. Tren saat ini menunjukkan volatilitas harga bahan bakar fosil serta kerentanannya terhadap guncangan geopolitik justru mengancam keamanan energi negara yang bergantung pada impor energi fosil.
Baca Juga:
Saham Emiten Batu Bara Ini Dibidik“Hal ini menegaskan bahwa keamanan energi sejati berasal dari energi bersih yang diproduksi di dalam negeri,” katanya.
Alparslan menjelaskan, sistem energi terbarukan umumnya membutuhkan investasi awal yang besar tetapi biaya operasional yang relatif rendah. Karena itu, kebijakan energi yang memprioritaskan energi terbarukan dapat mengurangi ketergantungan pada volatilitas pasar bahan bakar global sekaligus memperkuat keamanan energi jangka panjang.
Di sisi lain, Visiting Fellow di National Center for Energy Analysis Lars Schernikau menilai, lonjakan harga gas akibat gangguan pasokan fisik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga seluruh komoditas energi, termasuk batu bara.
“Batu bara masih merupakan cara paling murah, paling aman, dan paling terjamin untuk menghasilkan listrik. Namun setiap negara tetap perlu mengandalkan kombinasi berbagai sumber energi sesuai kondisi geologi dan geopolitiknya,” ujarnya.
Schernikau menilai batu bara tidak bisa dihilangkan dari bauran energi tanpa adanya alternatif yang benar-benar layak, murah, dan andal. “Semakin kita berusaha menghilangkan batu bara, sistem kelistrikan kita justru menjadi lebih mahal dan kurang andal,” katanya.
Schernikau menambahkan, volatilitas terbaru pada pasokan minyak dan gas alam serta lonjakan harga energi global kembali menegaskan peran batu bara dalam sistem energi. Menurut dia, batu bara juga memiliki relevansi geopolitik yang lebih kecil dibandingkan energi lain. “Batu bara tidak bisa dibom atau meledak, dan tersedia di hampir semua wilayah utama di dunia,” ujarnya.
Karena itu, Schernikau menilai banyak negara kemungkinan masih perlu mempertahankan batu bara dalam portofolio energi jangka panjang untuk menjaga biaya energi tetap rendah sekaligus memastikan stabilitas sistem kelistrikan.
“Menurut pandangan saya, negara-negara sebaiknya tetap mempertahankan batu bara dalam portofolio energi mereka, bukan hanya karena faktor geopolitik, tetapi juga untuk menjaga biaya sistem energi tetap rendah serta memastikan jaringan listrik stabil dan aman,” ujarnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






