Amman Mineral (AMMN) Kejar Target
JAKARTA, invetor.id - PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menargetkan proses commissioning dan ramp up smelter berjalan optimal menjelang berakhirnya masa relaksasi ekspor konsentrat tembaga pada April 2026. Hal ini bertujuan agar operasional pengolahan mineral kembali stabil.
Vice President Corporate Communications AMMN, Kartika Octaviana, berterus terang bahwa menjelang berakhirnya masa relaksasi ekspor, AMMN belum memutuskan apakah akan mengajukan perpanjangan relaksasi ekspor.
Mengingat, semua upaya saat ini diarahkan demi memenuhi batas waktu perbaikan teknis sesuai ketentuan pemerintah. “Kami masih memiliki waktu sekitar satu setengah bulan. Sejauh ini progresnya cukup baik, bahkan lebih baik dari ekspektasi awal,” ungkap Kartika kepada media, baru-baru ini
Kartika menyebut, tantangan terbesar berasal dari kompleksitas smelter yang masih berada dalam tahap adaptasi. Selama ini, AMMN memiliki kompetensi utama pada operasi tambang, sehingga proses pemurnian yang melibatkan aspek teknis seperti penanganan sulfur menjadi tantangan baru bagi perusahaan.
Menurut dia, peralihan tambang dari fase 7 ke fase 8 pada 2025 yang didominasi bijih low grade dan medium grade menjadi faktor utama penurunan guidance produksi tahun ini. Pembaruan kinerja dan outlook akan dipaparkan pada 26 Maret bersamaan dengan publikasi studi kelayakan terbaru.
AMMN juga tengah menuntaskan finalisasi pembangkit listrik combined cycle berbasis LNG berkapasitas 450 MW. Pembangkit ini dioperasikan bertahap sesuai kebutuhan produksi untuk mendukung proses hilirisasi.
Produksi katoda tembaga, emas, dan silver sudah dimulai sejak awal 2025 namun masih dalam tahap ramp-up, sehingga output belum stabil. Sebagian konsentrat masih harus diekspor tahun lalu akibat kendala teknis.
Kapasitas input smelter mencapai 900 ribu ton konsentrat per tahun, namun fasilitas baru dapat beroperasi sejak Maret 2025 dan masih mengalami variabilitas utilitas.
Kartika menegaskan, proses ramp-up smelter tidak memiliki timeline yang pasti mengingat standar global menunjukkan fasilitas serupa memerlukan waktu 2–3 tahun untuk mencapai operasi stabil. “Kami melakukan yang terbaik agar stabilisasi dapat terjadi lebih cepat,” katanya.
Baca Juga:
Saham Komoditas MemanasDari sisi eksternal, tensi geopolitik di Timur Tengah disebut dapat berdampak pada rantai pasok energi. Namun distribusi bahan bakar bagi perusahaan sejauh ini masih berjalan normal. AMMN tetap melakukan pemetaan risiko untuk mengantisipasi kenaikan harga energi atau perubahan jalur logistik.
Kartika juga menyampaikan bahwa pasar tembaga global masih solid, ditopang permintaan jangka panjang dari sektor elektrifikasi dan pembangunan infrastruktur.
“Suplai global terbatas sehingga sejauh ini belum terlihat dampak langsung terhadap permintaan produk kami. Fundamental pasar tembaga tetap kuat, ini yang menjadi dasar keyakinan kami dalam menghadapi tahun ini,” imbuh Kartika.
Target Harga Saham AMMN
Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan dan Shabbhi Valdi, menilai saham AMMN saat ini berada dalam fase kebangkitan menyusul ramp-up fase 8 yang akan meningkatkan produksi secara signifikan dalam dua tahun ke depan.
Dalam risetnya, Maybank menginisiasi cakupan atas AMMN dengan rekomendasi BUY dan target harga Rp11.000 per saham, yang menempatkan AMMN sebagai proxy tembaga-emas terintegrasi terbesar kedua di Indonesia setelah Freeport.
Maybank memperkirakan, AMMN akan mencatat rugi bersih US$54 juta pada 2025 akibat masa transisi. Tapi, memasuki 2026, laba bersih AMMN diproyeksikan melonjak hingga US$1,4 miliar didorong oleh kenaikan produksi tembaga sebesar 113% YoY dan emas 543% YoY.
Proyeksi tersebut terjadi di tengah ekspektasi supercycle komoditas tembaga dan emas global. Tambang Batu Hijau dan deposit Elang yang memiliki 2,5 miliar ton bijih menjadi penopang utama pertumbuhan AMMN. Smelter baru berkapasitas input 900 ribu ton konsentrat juga akan meningkatkan retensi nilai tambah perusahaan.
Meski begitu, Maybank mengingatkan risiko utama berasal dari potensi keterlambatan ramp-up, tekanan harga komoditas, hingga perizinan ekspor setelah kuota 480 ribu ton yang berlaku dalam masa relaksasi.
“Jika pasar komoditas bergerak sesuai proyeksi dan proses hilirisasi AMMN berjalan lebih cepat dari jadwal, maka potensi kenaikan valuasi akan semakin besar,” pungkas analis.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





