Merdeka Gold (EMAS) Tekor Besar
JAKARTA, investor.id – Kinerja PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) masih jauh panggang dari api. Sebagai emiten emas pendatang baru di Bursa Efek Indonesia (BEI), investor semestinya paham belum banyak yang bisa diharapkan dari performa anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini.
Tengok saja, prospektus penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) EMAS September tahun lalu. Di dokumen tersebut tertulis jelas bahwa mayoritas atau setara Rp3,88 triliun dana yang terkumpul dari penghimpunan dana di pasar modal dipakai perseroan untuk membayar pokok utang lebih awal kepada pemegang saham pengendalinya, MCG.
Sisanya, baru digunakan perseroan sebagai suntikan modal kerja yang terdiri dari US$20 juta atau setara Rp329,2 miliar disalurkan kepada anak usahanya, PT Pani Bersama Tambang (PBT) dan Rp329,2 miliar lagi diberikan kepada PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS). Modal kerja tersebut selanjutnya dimanfaatkan PBT dan PETS untuk memenuhi kegiatan operasional.
Melihat dari postur penggunaan dana IPO tersebut saja terang bahwa prioritas EMAS adalah membayar utang menyusul posisi saldo pokok terutang perseroan kepada MCG yang telah mencapai US$260 juta atau ekuivalen Rp4,28 triliun per 10 September 2025.
Tak ayal, banyak mesin pendapatan EMAS yang pada akhirnya lambat panas hingga akhir tahun buku 2025. Mengingat, dana IPO yang lebih banyak digunakan untuk membayar utang alih-alih ekspansi bisnis. Ditambah lagi, sebelum IPO, perseroan juga sudah dalam keadaan merugi.
Per 31 Desember 2024, EMAS menderita kerugian bersih sebesar US$12,7 juta. Kemudian, per 31 Desember 2025, kerugian tersebut makin membesar menjadi US$27,5 juta. Musababnya, lantaran terbatasnya sumber pemasukan perseroan.
Baca Juga:
Kejutan dari Merdeka Battery (MBMA)Bayangkan saja, hingga pengujung 2025, EMAS hanya memperoleh pendapatan usaha dari sewa alat berat. Itupun berasal dari pihak berelasi dan itupun angkanya menurun dari US$1,74 juta, menjadi US$131 ribu. PETS selaku pihak berelasi yang periode sebelumnya memberikan pemasukan US$1,74 juta kepada EMAS, tidak lagi memberikan pemasukan pada 2025.
Sepinya pendapatan otomatis beban pokok pendapatan yang ditanggung perseroan juga lebih kecil dari semula US$ 1,18 juta menjadi US$277 ribu, sehingga laba kotor setelah dipangkas beban pokok menyisakan US$145 ribu.
Di samping sumber pendapatan yang masih sangat terbatas, EMAS juga punya permasalahan inefisiensi dari beban operasional yang semakin menggunung. Per 31 Desember 2025, beban operasional/usaha perseroan tercatat menembus US$9,48 juta, membengkak 831% secara yoy dibandingkan tahun lalu sebesar US$1 juta.
Artinya, untuk menutupi beban usaha saja, Merdeka Gold sudah tekor US$9,35 juta atau 7.088% dibandingkan pendapatan yang masuk sebesar US$131,96 ribu. Atau dengan kata lain, beban usaha 71.9 kali lebih besar daripada pendapatan perusahaan.
Maka jangan heran, bilamana kerugian EMAS makin parah per 31 Desember 2025 yang diikuti dengan kerugian per saham dasar yang membengkak dari US$0.0009 per saham menjadi US$0.0019 per saham.
Secuil kabar baiknya, ekuitas perseroan kini lebih tebal dari US$273 juta menjadi US$380 juta dibarengi dengan kenaikan liabilitas menjadi US$359 juta ketimbang sebelumnya US$256 juta. Jumlah aset menguat dari US$529 juta, menjadi US$740 juta.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






