Emas Tertahan di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Ketidakpastian The Fed
JAKARTA, investor.id – Harga emas bergerak stabil namun fluktuatif pada perdagangan Senin (30/3/2026). Pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mampu mengimbangi tekanan dari lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi global serta memudarnya prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Harga emas di pasar spot sedikit terkoreksi 0,1% ke level US$ 4.488,46 per ons pada pukul 04.31 GMT, setelah sebelumnya sempat bergejolak antara penurunan 1% hingga penguatan tipis. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April turun 0,1% menjadi US$ 4.518,30 seperti dipantau Reuters, Senin (30/3/2026).
Dolar AS Melemah, Volatilitas Meningkat
Pelemahan indeks dolar AS membuat komoditas yang dipatok dengan mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya. Meski emas sempat memutus tren penurunan tiga mingguan pada pekan lalu, para analis memperingatkan adanya potensi volatilitas tinggi dalam waktu dekat.
"Pergerakan harga emas minggu lalu menunjukkan reaksi terhadap kondisi jenuh jual (oversold). Namun, pembalikan tren ini masih perlu dikonfirmasi oleh aksi harga pekan ini," terang Global Head of Institutional Markets ABC Refinery Nicholas Frappell, Senin.
Sentimen Energi dan Ketegangan Geopolitik
Faktor utama yang menahan laju emas adalah lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus US$ 115 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh serangan kelompok Houthi Yaman ke Israel pada akhir pekan lalu, yang memperluas cakupan perang dan memperburuk kekhawatiran inflasi.
Sepanjang Maret 2026 saja, kontrak minyak telah melonjak 60%, sebuah rekor kenaikan bulanan tertinggi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan, pihak AS dan Iran telah bertemu secara "langsung maupun tidak langsung".
Meski menyebut pemimpin baru Iran dinilai bersikap masuk akal, ketegangan tetap tinggi seiring tibanya lebih banyak pasukan AS di kawasan tersebut dan peringatan pihak Iran bahwa mereka tidak akan menerima penghinaan.
Prospek Suku Bunga dan Inflasi
Para pelaku pasar kini melihat peluang kecil bagi The Fed untuk memangkas suku bunga tahun ini. Harga energi yang tinggi mengancam akan merembet ke inflasi yang lebih luas, sehingga membatasi ruang bagi pelonggaran moneter.
Emas sendiri telah turun lebih dari 15% sepanjang bulan ini, menandai penurunan bulanan tertajam sejak Oktober 2008. Tekanan ini terutama datang dari penguatan dolar AS sebesar 2% sejak pecahnya konflik AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (hedging) utama terhadap inflasi. Namun, dinamika pasar pada 2026 menghadirkan anomali yang kompleks.
Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah memang memicu inflasi, yang seharusnya menaikkan daya tarik emas. Di sisi lain, inflasi tinggi justru memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), suku bunga tinggi cenderung menekan harganya karena investor lebih memilih beralih ke aset seperti obligasi atau dolar AS yang menawarkan imbal balik nyata.
Penurunan tajam emas sebesar 15% pada Maret 2026 mencerminkan pergeseran ekspektasi makro yang drastis, di mana kekuatan dolar AS dan ketidakpastian kebijakan moneter The Fed menjadi variabel penentu yang lebih dominan dibandingkan status emas sebagai safe haven.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






