Harga Emas Ngebut, Dekati Level Tertinggi Tiga Pekan
JAKARTA, investor.id – Harga emas dunia melonjak mendekati level tertinggi dalam tiga pekan pada perdagangan Rabu (8/4/2026), seiring meredanya kekhawatiran pasar setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan menunda serangan terhadap Iran selama dua pekan.
Dikutip dari Reuters, keputusan tersebut membuat pelaku pasar kembali menilai ulang risiko jangka pendek, terutama terkait lonjakan inflasi akibat harga energi.
Harga emas hari ini terlihat melejit 2% ke level US$ 4.800 per ons troi saat berita ditulis. Bahkan sebelumnya, harga logam mulia ini sempat melonjak lebih dari 3% ke level tertinggi sejak 19 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni melesat 2,03% ke US$ 4.829,4 per ons.
Trump menyatakan, Washington telah menyetujui jeda serangan selama dua pekan serta menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai dapat menjadi dasar negosiasi. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya ia memperingatkan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan balasan dari AS.
Analis logam independen Tai Wong menilai, kenaikan harga emas saat ini lebih didorong oleh sentimen jangka pendek.
“Ini merupakan reli spontan akibat sentimen positif, namun masih perlu dilihat apakah Iran akan mematuhi kesepakatan tersebut. Untuk harga emas, level US$ 4.930 per ons troi dan US$ 5.000 per ons troi menjadi resistance penting,” ujarnya.
Upaya diplomasi juga terus berlangsung. Pakistan, yang berperan sebagai mediator antara AS dan Iran, mengusulkan perpanjangan waktu dua pekan guna membuka ruang negosiasi.
Dewan Keamanan Tertinggi Iran menyatakan, pembicaraan dengan AS dijadwalkan dimulai pada 10 April di Islamabad, setelah proposal disampaikan melalui Pakistan. Namun, mereka menegaskan bahwa negosiasi tersebut belum menandakan berakhirnya konflik.
Bayang-bayang Inflasi
Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar karena berpotensi mendorong inflasi dan mempersulit langkah bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Meski emas kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan aset safe haven, daya tariknya bisa melemah di tengah suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Riset Federal Reserve Bank of Dallas menunjukkan, gangguan berkepanjangan pada perdagangan minyak global dapat mendorong inflasi AS melampaui 4% pada akhir tahun, bahkan berpotensi lebih tinggi dalam jangka pendek.
Sepanjang tahun ini, harga emas sempat mencatatkan kinerja kuat. Namun sejak konflik Iran pecah pada 28 Februari, harga emas telah terkoreksi lebih dari 8%.
Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat kebijakan moneter Maret dari The Fed yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Di sisi lain, logam mulia lainnya juga ikut menguat. Harga perak naik 4,55% ke US$ 76,33 per ons, platinum menguat 3,32% ke US$ 2.026,42, dan paladium naik 4,43% ke US$ 1.537,05 per ons.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






