Emas Terus Diburu Bank Sentral
JAKARTA, investor.id - Kenaikan harga emas di awal 2026, yang diikuti oleh peningkatan volatilitas dan koreksi terbesar dalam beberapa dekade, tampaknya tidak menghalangi upaya bank-bank sentral global untuk meningkatkan cadangan emas.
Dikutip dari Kitco News, Kamis (9/4/2026), survei yang dilakukan oleh Central Banking Publications dan disponsori oleh HSBC mengamati minat investasi 101 bank sentral yang mengelola cadangan emas senilai lebih dari US$ 9,5 triliun.
Survei tersebut mengungkapkan bahwa 72,6% bank sentral mengaku berinvestasi dalam bentuk emas, naik dari 69,4% responden tahun lalu.
Pada saat yang sama, 15 bank sentral atau 15,8% responden mengatakan telah membeli emas, dan tiga bank sentral lainnya mengaku ingin meningkatkan cadangan emas dalam lima hingga 10 tahun ke depan.
Sementara itu, hanya 8 bank sentral atau 8,4% yang mengatakan tidak tertarik untuk berinvestasi dalam bentuk logam mulia.
Central Banking Publications mencatat, diversifikasi investasi ke emas terjadi karena bank sentral global memandang ketidakpastian geopolitik sebagai risiko ekonomi terbesar tahun ini. Menurut survei tersebut, 69,7% bank sentral mengatakan bahwa ketegangan geopolitik menjadi kekhawatiran utama mereka.
“Konflik geopolitik yang sedang berlangsung dan yang muncul merupakan risiko besar karena memengaruhi perdagangan, arus modal, harga komoditas, dan korelasi pasar keuangan,” kata seorang manajer cadangan aset di sebuah bank sentral di negara Timur Tengah.
Selain itu, survei garapan Central Banking Publications juga menyoroti bahwa risiko geopolitik menyebabkan diversifikasi portofolio. Namun, dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan dominan dengan 78% responden memperkirakan bahwa de-dolarisasi akan menjadi proses bertahap.
"Tetapi emas menjadi fokus, dengan 39% mempertimbangkan untuk meningkatkan kepemilikan dalam setahun mendatang. Harga dan volatilitas yang tinggi juga menyebabkan 37% berencana untuk lebih aktif dalam mengelola cadangan emas mereka,” kata Bernard Altschuler, Kepala Global Cakupan Bank Sentral di HSBC, dalam komentarnya terkait survei tersebut.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






