Minggu, 21 Juni 2026

Purbaya Restui Niat China untuk Terbitkan Obligasi di Pasar Keuangan Indonesia

Penulis : Arnoldus Kristianus
21 Apr 2026 | 20:44 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan dengan 18 investor di Washington DC, Amerika Serikat pada Selasa (14/4/2026). (Foto: Humas Kementerian Keuangan)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan dengan 18 investor di Washington DC, Amerika Serikat pada Selasa (14/4/2026). (Foto: Humas Kementerian Keuangan)

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang bagi Pemerintah China untuk menerbitkan surat utang (obligasi) di pasar keuangan domestik. Langkah ini merupakan bentuk kerja sama timbal balik setelah Indonesia sebelumnya juga merencanakan penerbitan instrumen serupa di pasar keuangan China.

Topik ini menjadi bahasan utama dalam pertemuan bilateral antara Menkeu Purbaya dengan Menteri Keuangan China, Lan Fo'an, di sela-sela agenda Spring Meeting IMF-World Bank di Amerika Serikat, pekan lalu.

“China tanya, boleh gak mereka terbitkan bond di Indonesia? Saya bilang boleh. (Tapi) kita timbal balik, kalau ada investor Indonesia yang mau beli bond China boleh juga. Jadi China adalah mitra dagang terbesar kita, jadi pada pembicaraan itu hasilnya amat positif,” ujar Menkeu Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (21/4/2026).

ADVERTISEMENT

Sebagai bagian dari strategi perluasan sumber pembiayaan APBN sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah berencana menerbitkan Panda Bond (obligasi berdenominasi Yuan) di pasar China. Langkah ini diambil karena tingkat suku bunga di Negeri Tirai Bambu tersebut dinilai sangat kompetitif.

“Kami juga bilang ingin menerbitkan Panda Bond di sana. Dia (Menteri Keuangan China) amat setuju dan bunganya di China itu murah, cuma 2,3%. Jadi kita bisa menekan cost of capital,” terang Purbaya.

Menariknya, rencana penerbitan obligasi di China ini juga dijadikan alat negosiasi oleh Purbaya saat bertemu dengan investor pasar modal di Amerika Serikat (AS). Menurut dia, kehadiran alternatif pembiayaan dengan bunga lebih rendah tersebut terbukti meningkatkan daya tawar surat utang Indonesia di mata investor global.

Strategi ini berdampak langsung pada lonjakan jumlah penawaran yang masuk (incoming bids) terhadap obligasi Indonesia.

“Informasi itu saya kasih tau juga ke investor-investor bond di Amerika Serikat. Bahasa halusnya, kalau lu gak mau yang lain ada yang mau, bunga-nya lebih murah lagi. Ini cara negosiasi kita sehingga langsung menaikkan jumlah incoming bids-nya secara signifikan,” demikian tutur Purbaya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 3 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 34 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia