Harga Emas Drop, Perang dan Arah The Fed Bikin Waswas
Di sisi lain, harga minyak mentah jenis Brent oil sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan. Hal ini dipicu masih terbatasnya akses di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Lonjakan harga energi turut memperkuat tekanan inflasi. Kondisi ini dinilai akan menyulitkan The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Menurut Melek, inflasi yang masih jauh di atas target membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi terbatas. “Ini menjadi faktor negatif bagi emas,” tambahnya.
Emas memang dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga justru mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini menanti hasil pertemuan bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, yang akan merilis pernyataan kebijakan pada Rabu (29/4/2026) waktu setempat. Pertemuan ini juga berpotensi menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell sebagai ketua The Fed.
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga bergerak melemah. Perak turun 0,24% menjadi US$ 75,52 per ons, platinum merosot 1,54% ke US$ 1.986,17 per ons, dan paladium terkoreksi 1,5% ke level US$ 1.472,5 per ons.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






