3 Isu Panas terkait Review MSCI dan FTSE
JAKARTA, investor.id – MSCI dan FTSE bukan sedang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia, melainkan kualitas dan aksesibilitas pasar modal Indonesia. Setidaknya ada 3 isu utama yang mencuat.
Dengan jumlah penduduk 280 juta jiwa, banyak investor asing masih percaya Indonesia bisa tumbuh 5%. Tetapi, pertanyaannya apakah pasar Indonesia masih memenuhi standar yang mereka harapkan untuk menempatkan modal dalam jangka panjang?
Walaupun begitu, pelaku pasar saat ini sudah mulai mengantisipasi hasil review MSCI dan FTSE Russell, terutama investor institusi dan investor asing.
“Menurut kami, sebagian kekhawatiran tersebut sudah tercermin dalam arus keluar dana asing yang mencapai hampir Rp 80 triliun sepanjang tahun berjalan ini,” ungkap Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Namun, kata dia, pasar kini lebih fokus pada kemungkinan perubahan persepsi terhadap Indonesia dibandingkan perubahan teknis indeks itu sendiri.
“Tak ayal, kami juga curiga bahwa front running smart money ketika valuasi saham sedang murah-murahnya seperti saat ini, telah terjadi secara diam-diam, walau tanpa bendera asing,” tutur dia.
Lebih lanjut, Liza mengungkapkan bahwa investor bukan sekadar menunggu apakah Indonesia tetap masuk status emerging market atau tidak, tapi apakah MSCI dan FTSE memberikan catatan tambahan terkait aksesibilitas pasar, kepastian regulasi, perlindungan investor, serta independensi mekanisme pasar.
“Karena itu, review tahun ini memiliki bobot psikologis yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ucapnya.
Baca Juga:
Duit Asing Bertebaran di Saham IniSetidaknya terdapat tiga isu utama yang paling berisiko menjadi catatan MSCI dan FTSE terhadap pasar modal Indonesia.
Pertama, market accessibility dan ease of investing. Investor asing sangat memperhatikan kemudahan keluar-masuk pasar, proses transaksi, settlement, short selling, securities lending, hingga efisiensi operasional pasar.
Kedua, predictability of policy atau kepastian kebijakan. Investor global umumnya dapat menerima perubahan kebijakan, tetapi mereka sangat sensitif terhadap kebijakan yang muncul mendadak, minim konsultasi pasar, atau berpotensi mengubah mekanisme pasar secara signifikan.
Baca Juga:
Isyarat Telkom (TLKM) Bakal MelompatKetiga, governance dan market confidence. Dalam beberapa bulan terakhir, muncul berbagai diskusi mengenai peran negara yang makin besar di pasar keuangan, termasuk melalui berbagai inisiatif kebijakan dan lembaga investasi strategis.
“Bagi investor asing, yang terpenting bukan siapa pelakunya, melainkan apakah mekanisme pasar tetap transparan, kompetitif, dan dapat diprediksi,” kata Liza.
Karena itu, menurut dia, risiko terbesar bukan berasal dari kondisi ekonomi makro, melainkan persepsi terhadap kualitas institusi dan kepastian aturan main.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






