Dipaksa Bolak-balik AS-Meksiko, Iran Mau Gugat Piala Dunia ke FIFA
SEATTLE, investor.id – Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) berencana mengajukan protes resmi kepada badan tertinggi sepak bola dunia, FIFA. Langkah ini diambil menyusul pembatasan perjalanan super ketat yang harus dihadapi tim nasional mereka di Amerika Serikat (AS) selama gelaran Piala Dunia 2026.
Akibat ketidakpastian visa dan ketegangan diplomatik dengan AS, timnas Iran terpaksa bermarkas di Meksiko sebagai salah satu tuan rumah bersama. Mereka harus melakoni perjalanan bolak-balik (komuter) ke Amerika Serikat hanya untuk bertanding dalam tiga laga fase grup.
Pemerintah AS mewajibkan skuad Iran untuk masuk ke wilayah mereka maksimal 24 jam sebelum pertandingan dimulai, dan harus langsung angkat kaki pada hari yang sama setelah laga usai. Aturan ketat ini membuat pelatih Iran, Amir Ghalenoei, meradang dan menyebut Iran sebagai tim "paling tertindas" di turnamen kali ini.
"Federasi Sepak Bola Iran menilai pembatasan ini bertentangan dengan prinsip keadilan dan kesetaraan bagi tim peserta, serta berpotensi mengganggu kesiapan teknis para pemain," bunyi pernyataan resmi federasi seperti dikutip Associated Press, Sabtu (20/6/2026).
Hingga saat ini, pihak FIFA belum memberikan tanggapan resmi terkait protes tersebut.
AS Buka Peluang Negosiasi Ulang
Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, menyatakan pihaknya terbuka untuk menegosiasikan ulang syarat masuk bagi timnas Iran. Washington mempertimbangkan untuk mengizinkan Iran tinggal sedikit lebih lama di sekitar jadwal pertandingan mereka.
"Segala hal bersifat dinamis dan bisa didiskusikan. Kami tentu ingin menciptakan fair play yang kompetitif di atas lapangan. Itulah mengapa setiap pelatih dan anggota tim telah mendapatkan visa mereka," ujar Giuliani saat berada di Seattle menjelang laga AS vs Australia.
"Presiden ingin memastikan turnamen ini berjalan seimbang secara kompetitif, sekaligus memastikan pihak-pihak berbahaya tidak masuk ke negara kami," tambahnya.
Klaim AS Demi Keamanan
Pelatih Amir Ghalenoei menegaskan gangguan jadwal ini telah memengaruhi performa anak asuhnya saat ditahan imbang 2-2 oleh Selandia Baru. Berdasarkan program tim, Iran seharusnya tiba di kota pelaksana dua hari sebelum laga demi adaptasi fisik, dan baru kembali ke markas Meksiko sehari setelah laga. Namun, izin tersebut ditolak pada laga perdana.
Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menegaskan bahwa langkah ini adalah prosedur keamanan yang sebelumnya telah disepakati bersama Iran. Setelah melawan Selandia Baru, Iran dijadwalkan menantang Belgia pada 21 Juni di Los Angeles, dan menutup laga Grup G melawan Mesir pada 27 Juni di Seattle.
"Tim diizinkan masuk pada H-1 pertandingan dan diminta pergi pada malam harinya setelah laga selesai. Fokus Presiden adalah memastikan segala hal di dalam dan di luar lapangan, termasuk kamp pelatihan, berjalan dengan aman dan kondusif," ungkap juru bicara DHS.
Ketegangan diplomatik antara AS dan Iran bukanlah hal baru, namun rembetannya ke panggung olahraga selalu menarik perhatian dunia. Hubungan kedua negara telah membeku sejak Revolusi Islam Iran pada 1979 dan tidak memiliki hubungan diplomatik formal. Isu nuklir, sanksi ekonomi, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah terus menjaga tensi kedua negara tetap panas.
Di panggung Piala Dunia, pertemuan keduanya selalu sarat muatan politis, seperti laga bersejarah Piala Dunia 1998 di Prancis yang dijuluki "Pertandingan Paling Bermuatan Politik dalam Sejarah", serta pertemuan mereka di Qatar 2022 lalu.
Format Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara (AS, Kanada, Meksiko) sedari awal memang diprediksi memicu kerumitan logistik. Bagi Iran, ketatnya birokrasi keamanan AS di edisi kali ini menjadi bukti nyata bagaimana urusan di luar lapangan hijau masih membayangi sportivitas dan fisik para atlet di atas rumput.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






