Sabtu, 4 April 2026

Menjadi Bermakna Berkat Bisnis Abaya

Investor.id
6 Jan 2016 | 17:50 WIB
BAGIKAN

Hobi mendesain mengantarkan Hikmat Salih Ahmed menjadi pengusaha garmen khusus abaya. Dia merasa bermakna bisa memberi pekerjaan pada banyak orang dan puas melihat desainnya dipakai banyak perempuan.

 

Advertisement

“Saya senang mendesain busana, tetapi lebih senang lagi kalau bisnis ini bisa berarti bagi banyak orang dan senang melihat customer memakai busana abaya saya yang cantik dan berkualitas,” ungkap Hikmat Salih Ahmed kepada Investor Daily di butiknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, akhir Desember 2015 lalu.

 

Seluruh koleksi busana muslim abaya Hikmat Fashion memang merupakan desain Hikmat sendiri. “Banyak hal bisa menjadi insprasi saya. Sejumlah international fashion week dunia juga bisa menjadi inspirasi saya. Mungkin saya hanya mengambil bahan lace yang dipakai di fashion week itu untuk inspirasi, bahan bermotif, atau percampuran beberapa bahan. Lalu saya olah kembali menjadi busana abaya yang modern dan elegan dengan penambahan aplikasi bordir atau payet,” jelas Hikmat, kelahiran Bagdag, Irak, tahun 1979.

 

Sejak kecil, Hikmat memang tidak bisa diam. Ada saja yang dilakukannya untuk menghasilkan uang. “Sejak SMP saya sudah senang mendesain dan waktu kuliah hukum di Bagdag, saya sudah membuat sendiri abaya untuk dijual,” ujar lulusan hukum dari Universitas Bagdag, Irak.

 

Sempat menjadi pengacara di Bagdag, Hikmat akhirnya mantap menjadi pengusaha garmen abaya. “Jadi pengacara itu harus banyak bohongnya, saya tidak suka,” alasan pria berdarah Irak itu.

 

Damaskus di Suriah (Syria) dipilihnya untuk membangun pabrik abaya. Produknya diekspor ke sejumlah negara, mulai Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika Serikat. “Untuk bahan bakunya saya ambil dari Indonesia. Indonesia itu terkenal sebagai penghasil bahan jetblack (bahan hitam pekat) dengan kualitas bagus, nomor dua setelah Korea,” ungkap Hikmat memuji.

 

Perang di Suriah membuat Hikmat melirik Indonesia untuk memindahkan pabriknya. “Tadinya saya mau buka pabrik di Cina, tetapi saya pikir bahan bakunya kan dari Indonesia, pasar busana muslim di Indonesia juga besar, mengapa saya tidak buka pabrik di Indonesia saja,” kata Hikmat yang senang dengan nasi goreng dan sate.

 

Target 12 Ribu Potong

Pada 2012, Hikmat membangun pabrik garmen abaya di Marunda, Jakarta Utara. Brand Hikmat Fashion dipilihnya. Awal berbisnis abaya di Indonesia, diakui Hikmat tidak mudah. “Di awal, brand Hikmat belum dikenal. Dalam sebulan, saya hanya mampu menjual 200-300 potong. Tapi ya itulah bisnis, harus sabar,” kata Hikmat optimis.

 

Lama-lama, abaya Hikmat Fashion dikenal dan disukai pasar Indonesia. “Desain saya beda dan tidak mengikuti tren. Saya bisa gagal kalau mengikuti apa yang sedang disukai pasar. Kebetulan abaya ini mendukung konsep busana muslim syar’i yang sedang tren di Indonesia. Apalagi abaya kami didesain modern dengan banyak warna, selain warna hitam seperti umumnya abaya di Timur Tengah,” jelas Hikmat yang kini tak kurang memproduksi 5 ribu potong abaya per bulan.

 

“Dari 5 ribu potong, tadinya 90% untuk pasar ekspor ke Malaysia dan negeri tetangga, kini penjualan Hikmat Fashion lebih banyak untuk Indonesia, yaitu 70%. Sisanya yang 30% kami ekspor ke luar negeri,” ungkap Hikmat yang mematok abayanya mulai Rp1 juta-1,3 juta.

 

Tahun 2016 ini, Hikmat berencana menambah kapasitas produksi abayanya menjadi 12 ribu potong per bulan. “2016, abaya warna-warni akan menjadi tren. Kami juga akan mengeluarkan koleksi abaya bergaya blazer, kemudian permintaan dalam dan luar negeri juga meningkat, karena itu kami akan memperluas pabrik dan menambah produksi dari 5 ribu menjadi 10-12 ribu potong per bulan,” jelas Hikmat yang koleksinya didistribusikan di sejumlah departement store dan 100 lebih reseller di seluruh Indonesia.

 

Demi memenuhi permintaan kelas menengah, Hikmat juga akan mengeluarkan koleksi abaya dengan harga yang tak terlalu mahal. “Banyak yang suka abaya kami, tapi banyak yang gak mampu beli karena mahal. Karena itu, di 2016, kami akan luncurkan koleksi yang lebih sederhana, tidak terlalu banyak bordir dan payet sehingga harga bisa ditekan menjadi Rp600 ribuan,” tandas Hikmat.

Sumber : Investor Daily

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 20 menit yang lalu

Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Business 20 menit yang lalu

Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru

Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.
National 42 menit yang lalu

Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon

Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
International 44 menit yang lalu

Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur

Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.
Business 56 menit yang lalu

Perum Bulog Catat Stok Beras  4,4 Juta Ton, Lampaui Target 2026

Perum Bulog mencatat stok beras nasional 4,4 juta ton melebihi target serapan sebesar 4 juta ton. Swasembada pangan optimistis tercapai.
International 1 jam yang lalu

Trump Usulkan ’Golden Dome’ dan Anggaran Perang Rp 25,5 Kuadriliun

Presiden Trump usulkan anggaran militer AS 2027 US$ 1,5 triliun. Fokus pada sistem pertahanan Golden Dome dan pangkas dana domestik.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia