Ketekunan Selalu Berbuah Kemanisan
Ketekunan mungkin sering terasa pahit, getir, dan menyakitkan. Tapi, percayalah, ketekunan selalu membuahkan hasil yang manis. Tak mengherankan jika orangorang sukses kerap menyelipkan kata tekun (berarti rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh) ke dalam daftar kunci kesuksesan mereka.
Ketekunan --bisa pula diartikan fokus dan konsisten pada satu bidang-- bahkan dapat mempercepat seseorang merengkuh kesuksesan. Josef Albert, pemilik (owner) Kitty Baby Shop, telah membuktikannya. Josef menekuni bisnis berjualan mainan anak-anak, perlengkapan wanita hamil, dan keperluan bayi yang dirintis ayahnya, Sardjono Lokito, tiga dekade silam.
Semula, pria kelahiran Surabaya, 27 Juni 1977, ini sempat galau. Apalagi Josef sejak awal tak tertarik sama sekali dan ogah-ogahan ikut membantu bisnis ayahnya. Kegalauan Josef Albert menjadi-jadi setelah teman-temannya mencibir, “Apa hebatnya penjual mainan anak-anak?”
Josef akhirnya memilih menjadi tenaga pemasaran asuransi dan obat-obatan. Tapi nasihat sang ayah selalu terngiang-ngiang di telinganya. Sekali menekuni satu bidang maka kamu akan menemui banyak pengalaman, akan bertahan, dan akan berhasil di situ,” kata Josef, menirukan ucapan ayahnya.
Kata-kata itulah yang membawa Josef Albert ke bisnis berjualan mainan anak-anak, perlengkapan wanita hamil, dan keperluan bayi yang digeluti ayahnya. Kata-kata itu pula yang hingga kini menjadi pegangan hidup dan senantiasa memacu semangat Josef.
Ia telah membuktikan kepada orang-orang yang dulu mencibirnya bahwa jika ditekuni, bisnis yang dianggap remeh-temeh bisa mengangkat derajat seseorang dan mengantarkannya ke jenjang kesuksesan.
Bisnis berjualan mainan anak-anak yang omzetnya dulu cuma Rp 1.000 per hari dengan 10 item di toko yang disewanya di pojok Jl Gubeng Surabaya, kini berkembang pesat. Tokonya pun sudah milik sendiri, malah dikenal sebagai pelopor pusat perbelanjaan terlengkap di Surabaya yang menyediakan produk perlengkapan ibu hamil dan melahirkan, bayi dan balita, serta anak-anak.
“Kalau nggak saya jalani dengan tekun, bisnis saya tidak akan seperti ini,” tutur Josef kepada wartawan Investor Daily Amrozi Amenan di Surabaya, baru-baru ini.
Ketekunan telah memberi Josef Albert pengalaman yang sangat berharga untuk memahami dinamika pasar dan perubahan perilaku konsumen.
“Pengalaman seperti itu sangat penting dalam menghadapi kemajuan zaman dan ketatnya persaingan bisnis, termasuk persaingan dengan pusat perbelanjaan modern,” papar Josef.
Berikut petikan lengkapnya:
Bagaimana Anda mengawali karier bisnis?
Saya mengawali karier sebagai tenaga sales asuransi Aetna. Saya bekerja tanpa modal pengetahuansama sekali tentang asuransi. Yang saya ingat, waktu itu saya sangat bangga bisa bekerja di perusahaan asuransi yang cukup bonafid. Saya ingin bekerja di bidang asuransi karena orang-orang bercerita bahwa menjadi tenaga sales asuransi itu sulit dan banyak tantangannya.
Saya tertarik dengan tantangan itu dan ingin mencobanya. Di kartu nama waktu itu, bukan tertulis sales asuransi, tapi konsultan asuransi. Wah, rasanya hati ini bertambah bangga. Saya pun mencari nama-nama nasabah berdasarkan data yang sudah dikasih leader saya waktu itu. Saya hubungi satu per satu, sampai ada ratusan nasabah yang saya hubungi.
Suatu ketika, ada satu nasabah yang saya pikir cukup potensial dan saya yakin bisa digaet menjadi nasabah saya. Saya telepon dia beberapa kali dan membuat janji untuk bertemu di rumahnya. Pagi itu, saya datang ke rumahnya yang megah di Sidoarjo. Petugas Satpamnya bertanya, apakah saya sudah membuat janji. Saya jawab sudah. Dia bilang, bosnya baru saja keluar. Besoknya saya telepon lagi dan kembali membuat janji untuk bertemu di rumahnya lagi.
Ketika saya datang ke rumahnya, Satpam menyuruh saya menunggu. Setelah beberapa saat kemudian, ada anjing keluar dari dalam rumah. Saya lari ketakutan, begitu pula Satpamnya. Belakangan saya tahu, itu adalah cara orang mengusir saya pergi dari rumahnya. Setelah itu, saya hubungi lagi dia, tapi teleponnya nggak pernah diangkat.
Selanjutnya saya melamar menjadi tenaga informan obat atau sales famasi (detailman). Saya berharap pengalaman menjadi sales asuransi menjadi modal berharga untuk meraih sukses sebagai sales obat.
Ternyata menjadi sales obat juga nggak gampang. Tapi, sedikit demi sedikit, saya bisa melaluinya. Namun tetap saja, menjadi sales obat menyimpan pengalaman menarik. Pada awal-awal saya menjadi sales obat, tak ada hasil dan sering kena semprot di kantor.
Suatu saat, ada orang yang memberi saran. Katanya, taruh wajahmu di belakang knalpot bus kota yang mau jalan, nanti waktu di kantor hal itu akan menjadi alasan kuat bahwa kamu sudah bekerja keras mencari nasabah tapi belum beruntung. Memang ya sih, leader saya percaya saja
Baru setelah itu, saya ikut membantu bisnis papa berjualan mainan anak-anak. Papa juga sudah bilang, sebelum ikut membantu dia, saya disuruh ikut orang lain dulu, cari pengalaman di luar dan harus tahu bagaimana susahnya berbisnis.
Tantangan terberat Anda waktu bergabung dengan bisnis orang tua?
Ada perbedaan tantangan yang dihadapi saat ayah saya merintis bisnisnya dulu dengan saat saya masuk. Ayah saya mendirikan Kitty Baby Shop pada 1988. Jika dulu harus babat alas dengan meyakinkan supplier dan konsumen ke konsep one stop shopping, kini tantangannya jauh lebih berat, yakni perubahan konsumen dalam berbelanja karena kemajuan zaman.
Konsumen sekarang tak sekadar berbelanja apa yang dibutuhkannya, tetapi juga ingin mengerjakan yang lain sambil berbelanja. Misalnya seorang ibu yang sedang mencari produk keperluan anak-anaknya, ingin santai sambil menunggu anakanaknya bermain.
Belum lagi gaya hidup ibuibu rumah tangga modern yang enggan keluar rumah, maunya pesan barang lewat telepon, lalu barang tinggal dikirim ke rumah. Juga banyaknya pesaing di bisnis ini, baik yang offline maupun online.
Tantangan lain adalah sumber daya manusia (SDM), terutama di counter, yang sudah cukup tua. Padahal, produk-produk terkini butuh pengetahuan produk yang cukup dan cara berkomunikasi secara baik kepada konsumen.
Apa yang Anda lakukan?
Dalam perkembangannya, industri ritel khusus, seperti yang saya geluti ini, harus menghadapi persaingan yang ketat. Kreativitas sangat dituntut untuk tetap menarik konsumen. Untuk itu, secara perlahan saya benahi manajemennya, saya lakukan pembaruan pada banyak hal, meningkatkan layanan dan tambahan fasilitas, seperti kafe, termasuk menyediakan kopi secara gratis.
Kami juga menyediakan tempat bermain di lantai dua, sehingga anak-anak bisa bermain saat orang tua mereka berbelanja. Ada pula kereta dorong supaya ibu-ibu tidak capek membawa barang belanjaannya. Kami pun menyediakan layanan stroller buat bayi selama di sini, play ground, dan berbagai event.
Kami bahkan menyediakan fasilitas berupa layanan konsultasi dokter anak, hingga psikolog, termasuk konsultasi terkait kebutuhan apa saja yang ideal untuk pasangan orang tua saat mereka menghadapi kelahiran sang buah hati. Intinya, bagaimana caranya agar konsumen merasa nyaman saat datang dan berbelanja di sini.
Untuk mengatasi kendala SDM, saya mulai mendidik tenaga-tenaga muda yang terampil dan membekalinya dengan pengetahuan produk yang bagus. Sedangkan tenaga-tenaga yang sudah berusia lanjut kami tempatkan di gudang atau bagian stok barang dan pengiriman.
Prospek bisnis ke depan seperti apa?
Bisnis perlengkapan bayi akan tetap memiliki prospek bagus ke depan. Karena di mana pun orang tinggal, pasti ada keinginan memiliki keturunan. Di situlah peluang bisnis ini. Tinggal bagaimana kami berinovasi mengikuti perkembangan dan tuntutan konsumen serta punya kemampuan menyiasati persaingan.
Dengan inovasi dan strategi yang telah kami siapkan, baik dari sisi manajemen maupun pengembangan fasilitas dan perbaikan layanan kepada konsumen, juga dengan mempertahankan konsep one stop shopping, saya optimistis bisnis ini ke depan tetap cerah.
Strategi Anda menghadapi persaingan?
Saya menyadari di bisnis yang saya geluti sekarang, tantangan demi tantangan begitu banyak. Perkembangan e-commerce (perdagangan secara elektronik) sudah lama menjadi tantangan terberat bisnis perlengkapan bayi. Itu menjadi concern saya ke depan.
Saya sendiri sudah menyiapkan itu, baik dari sisi teknologi, maupun SDM. Kami akan fokus di sana. Kami tetap ingin lebih unggul. Tapi kami juga tidak mengabaikan yang offline karena ini pun masih menjadi kekuatan kami, bukan saja customer di Surabaya, tapi juga dari luar kota, bahkan luar Pulau Jawa. Kami akan mengembangkan outlet di beberapa wilayah untuk mendekatkan konsumen fanatik kami yang sudah turun-temurun hingga ke anak cucu.
Obsesi Anda yang belum terwujud?
Dulu saya ingin menjadi pelopor bisnis perlengkapan ibu yang akan melahirkan, perlengkapan bayi, dan kebutuhan rumah tangga terlengkap. Keinginan itu sudah kami capai. Dan itu adalah satu kebanggaan buat kami sekeluarga.
Satu lagi keinginan kami adalah bagaimana bisnis ini nantinya tetap bertahan sampai anakanak saya dan bisa memberikan kesejahteraan bagi karyawan kami yang sangat loyal, yang menemani kami dalam kondisi apa pun. Saat perekonomian kita mengalami krisis tahun 1998, bisnis kami tekena imbasnya.
Namun, dalam kondisi ekonomi yang terpuruk, karyawan kami begitu loyal dan tetap bersemangat serta bahu-membahu membantu kami agar bisnis kami tetap jalan. Kesetiaan mereka membuat kami ingin melihat mereka sejahtera.
Filosofi dan nilai-nilai hidup yang Anda pegang?
Ayah saya selalu memberi motivasi bahwa saya harus fokus dalam bidang yang saya tekuni. Ketika orang lain mencibir bisnis ini dan menyatakan keheranannya kenapa saya tidak berjualan sembako atau produk lain saja yang lebih cepat laku dibanding popok bayi, nasihat ayah saya berhasil meyakinkan saya.
Saya sempat terpengaruh omongan mereka, tetapi pesan ayah selalu menguatkan saya bahwa saya harus tekun dan jangan gampang menyerah. Pesan itu yang membuat saya bertahan dan termotivasi untuk mengembangkan bisnis ini sampai sekarang. Meski ayah saya sudah pensiun, pesan dan nasihat-nasihatnya tetap terpatri kuat dalam hati dan benak saya. Filosofi dan nilai-nilai itulah yang saya pegang sampai sekarang, baik dalam mengelola bisnis maupun dalam menjalani kehidupan secara keseluruhan.
Jadi, ayah saya adalah orang terpenting di balik kesuksesan bisnis ini. Selain itu, ibu saya juga memberi support dalam setiap kegiatan saya. Sewaktu saya kecil, ke mana pun melangkah, saya selalu menjadi perhatian ibu. Kasih sayang itu juga yang membuat perhatian saya kepada para karyawan seperti perhatian saya kepada anggota keluarga sendiri. Saya anggap mereka keluarga saya sendiri.
Anda punya waktu khusus untuk keluarga?
Keluarga adalah permata hidup saya. Sesibuk apa pun, saya selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Saya menaruh perhatian pada perkembangan anak-anak saya. Bagaimana pun mereka adalah generasi penerus saya, yang akan melanjutkan cita-cita saya yang belum terwujud.
Saya menyediakan waktu khusus bersama mereka, hari Jumat untuk jalan-jalan, makan bersama dan bermain di tempat tertentu. Kenapa hari Jumat, karena jalan-jalan tidak seberapa macet. Saya terkadang membawa mereka ke luar kota.
Harapan Anda untuk keluarga?
Saya ingin mewariskan nilainilai hidup ayah saya yang telah diturunkan kepada saya, yaitu jangan gampang menyerah, jadi pengusaha yang ulet dan fokus pada bidang yang ditekuni, serta bercita-cita selalu ingin meraih kesuksesan. Saya sangat bersyukur, istri saya sangat pengertian. Ia selalu memberi dukungan.
Terkadang ada kendala, misalnya yang terkait dengan supplier atau produk. Dia ikut memberikan masukan dan terlibat dalam memajukan bisnis kami, di samping mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak di rumah. Istri saya sangat pengertian, bahkan sejak kencan pertama dulu.
Kencan pertama dengan istri merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Saat itu, saya sedang nggak enak badan, tetapi memasakan diri untuk janji bertemu dia di sebuah kafe. Saat meneguk minuman di dalam gelas, saya tiba-tiba tersedak dan batuk. Minuman itu tak sengaja menyembur keluar dari mulut saya dan mengena muka istri (calon istri) saya. Sambil menahan malu, saya segera mendekat ke dia dan meminta maaf, lalu ikut mengusap wajahnya. Untunglah dia memaafkan saya.
Tokoh idola Anda?
Saya mengagumi tokoh entrepreneur Indonesia, Bob Sadino. Ia pengusaha yang sudah sukses namun tetap merakyat. Dia punya jaringan luas. Seorang motivator yang kata-katanya sederhana, tapi bisa memotivasi orang untuk maju.
Ada satu pelajaran yang bisa saya petik dari seorang Bob Sadino, yaitu bahwa kita bekerja di bidang apa pun, asalkan kreatif, tak gampang menyerah, pasti akan survive. Bob Sadino berangkat hanya dari seorang penjual telur ayam. Tapi karena begitu kreatif, dia bisa menjadi pengusaha besar. Spirit yang bisa saya ambil darinya, saya seharusnya bisa lebih kreatif dari dia. (*)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon
Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur
Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.Tag Terpopuler
Terpopuler

