Minggu, 21 Juni 2026

Dinilai Terlalu Banyak, Tokoh Agama Sebaiknya Kaji Ulang Jumlah Libur Keagamaan

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
21 Mei 2024 | 17:21 WIB
BAGIKAN
Ekonom Senior sekaligus Tim Asistensi Menko Bidang Perekonomian Raden Pardede usai acara DBS Asian Insights Conference 2024 di Jakarta, Selasa (21/05/24).
Ekonom Senior sekaligus Tim Asistensi Menko Bidang Perekonomian Raden Pardede usai acara DBS Asian Insights Conference 2024 di Jakarta, Selasa (21/05/24).

JAKARTA, investor.id – Jumlah libur nasional termasuk di dalamnya libur keagamaan dinilai terlalu banyak, apalagi ditambah cuti bersama, sehingga total ada 27 hari libur selama setahun. Hal ini mendapat sorotan karena pengusaha mengeluhkan masalah produktivitas kerja dan usaha. Padahal dibandingkan negara lain, produktivitas kerja Indonesia terbilang rendah.

Ekonom Senior sekaligus Tim Asistensi Menko Bidang Perekonomian Raden Pardede mengatakan, Salah satu faktor rendahnya produktivitas tersebut karena jumlah libur pekerja yang dinilai panjang.

"Kita ini tertinggal dibanding banyak negara, dari sisi produktivitas, dari sisi jumlah jam kerja. Jadi harapan saya kita harus memikirkan ulang libur bersama," ungkap Raden, usai acara DBS Asian Insights Conference 2024 di Jakarta, Selasa (21/05/24).

ADVERTISEMENT

Karena itu, Raden berharap para tokoh agama perlu untuk mempertimbangkan pemangkasan jumlah libur keagamaan saat ini. Pasalnya, libur keagamaan di Indonesia disebut paling banyak dibandingkan negara lain.

"Masing-masing tokoh agama harus memikirkan juga, jangan terlalu banyak libur keagamaan ini. Kita punya 5 agama, masing-masing bikin ada libur. Kalau di negara lain kan mungkin hanya 1-2 agama. Jumlah libur keagamaan perlu dikurangi, sepakati mencari titik temu disini," katanya.

Raden menilai, pemerintah seharusnya bisa memahami keluhan dari para pengusaha. Belakangan, banyak pengusaha yang protes menuntut jumlah libur nasional dan cuti bersama bagi pekerja dipangkas.

Dia berpendapat, berkurangnya jumlah hari kerja berdampak pada berkurangnya produksi usaha. Hal ini dianggap semakin mengikis daya saing dunia usaha di tanah air bidandingkan negara lain.

Apalagi, produktivitas pekerja Indonesia disebut berada di angka US$ 23,89 ribu per pekerja. Jumlah ini lebih rendah dibanding rata-rata produktivitas pekerja ASEAN yang berada di angka US$ 24,27 ribu.

"Jadi saya pikir concern dari dunia usaha itu sangat masuk akal. Jangan terlalu banyak libur-libur yang tidak perlu," ujar Raden.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 3 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 34 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia