Danantara Tegaskan Tambahan Saham Freeport Tak Gratis
JAKARTA, investor.id – Pemerintah telah mencapai kesepakatan dengan Freeport-McMoRan terkait pembelian tambahan saham di tambang Grasberg, Papua, salah satu tambang tembaga terbesar di dunia. Chief Investment Officer (CIO) Dana Kekayaan Negara Danantara Pandu Sjahrir menekankan, saham tambahan tersebut tidak akan diberikan secara cuma-cuma.
Indonesia sebelumnya telah mengambil alih 51% saham PT Freeport Indonesia pada 2018. Saat itu, muncul wacana Indonesia bisa menambah kepemilikan tanpa biaya, namun Pandu menegaskan hal itu tidak benar.
“Tidak bisa dibilang gratis; selalu ada biayanya. Ini akan menjadi kesepakatan win-win bagi kedua belah pihak,” ujar Pandu seperti dikutip Bloomberg internasional, Kamis (2/10/2025) di sela-sela pertemuan Milken Institute Asia Summit, Singapura.
Awal pekan ini, CEO Danantara Rosan Roeslani sempat menyebutkan Freeport bersedia memberikan tambahan 12% saham secara gratis kepada pemerintah dengan imbalan perpanjangan izin operasi hingga setelah 2041. Namun, Freeport kemudian merilis pernyataan kedua belah pihak masih berupaya merumuskan kesepakatan yang saling menguntungkan.
Hasilnya, pemerintah dan Freeport telah menyepakati penambahan saham milik Indonesia di PT Freeport Indonesia (PTFI) sebesar 12%.
Dengan demikian, saham pemerintah melalui perusahaan pelat merah Mining Industry Indonesia (MIND ID) yang semula 51%, akan bertambah menjadi 63%. Saat ini Indonesia bersama Freeport McMoRan tengah menyelesaikan proses administrasi, dan apabila sudah selesai, maka penandatanganan akan dilakukan secepatnya.
Negosiasi tambahan saham ini mengingatkan pada perundingan panjang dan alot saat pemerintah Indonesia mengambil alih mayoritas saham Freeport pada 2018. Kala itu, sengketa mencakup persoalan pajak, lingkungan, hingga ancaman arbitrase internasional. Bahkan, pada 2017 produksi sempat terhenti akibat larangan ekspor konsentrat oleh pemerintah.
Adapun pada saat berita ini ditayangkan, tambang Grasberg masih dalam tahap pemulihan setelah insiden aliran lumpur yang menewaskan sedikitnya dua orang dan memaksa Freeport menurunkan proyeksi produksi tembaga tahun ini dan tahun depan. Perusahaan juga telah mengeluarkan pemberitahuan force majeure pekan lalu.
Selain isu Freeport, Danantara juga menyiapkan penerbitan obligasi Patriot Bonds senilai Rp 50 triliun (US$ 3 miliar). Para taipan terkaya Indonesia sudah menyatakan komitmen untuk membeli obligasi tersebut, meskipun dengan imbal hasil (yield) lebih rendah dibandingkan yield surat utang pemerintah. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk lebih dari 30 proyek pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.
Menurut Pandu, sekitar 80% dari total aset Danantara yang mencapai US$ 8 miliar akan diinvestasikan di dalam negeri, sementara sisanya ditempatkan di luar negeri. Investasi difokuskan pada sektor energi, pusat data, ketahanan pangan, hingga manajemen investasi. Beberapa kesepakatan ditargetkan rampung pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





