Minggu, 21 Juni 2026

Ambisi Pertumbuhan Ekonomi Jangan Korbankan Nasib Pekerja

Penulis : Hendro Dahlan Situmorang
1 Mei 2026 | 21:45 WIB
BAGIKAN
Anggota DPR Komisi IX Pulung Agustanto
Anggota DPR Komisi IX Pulung Agustanto

JAKARTA, investor.id - Anggota Komisi IX DPR Pulung Agustanto menilai perjuangan kaum pekerja saat ini semakin kompleks. Kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil karena krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina sampai perang di Asia Barat turut menerjang Indonesia. Pada sisi lain kondisi ekonomi Indonesia belum pulih seratus persen akibat Covid-19 kemarin.

Menurut Pulung dalam konteks memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) tahun ini, kondisi ketenagakerjaan Indonesia berada di persimpangan jalan yang krusial. 

Di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital yang agresif, hak-hak dasar pekerja justru menghadapi ancaman degradasi yang nyata melalui kebijakan fleksibilitas pasar kerja dan gelombang otomatisasi yang tidak terkendali.

ADVERTISEMENT

“Semua kondisi ini jangan sampai menjadikan pekerja sebagai pihak yang pertama dikorbankan atas nama efisiensi, otomatisasi, atau keuntungan perusahaan,” ujar Pulung dalam keterangannya Jumat (1/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah dengan berkembangkan teknologi artificial intelligent (AI). Laporan Future of Jobs Report 2025, dalam World Economic Forum memproyeksikan adanya disrupsi pada 22% pekerjaan di dunia hingga tahun 2030. 

Di sisi lain, maraknya pekerja seperti driver ojol telah menciptakan kondisi yang tidak seimbang. Pada jenis pekerjaan ini, menurut Pulung, tengah menyaksikan upaya sistematis untuk menormalisasi ketidakpastian kerja dengan istilah-istilah seperti ekonomi berbagi atau fleksibilitas kerja.

“Krisis energi dan distrupsi teknologi menjadi tantangan yang tergambar sangat nyata dalam arena perjuangan kaum pekerja. Hari ini, pekerja Indonesia tidak hanya berhadapan dengan kondisi ekonomi yang semakin menekan, bersaing dengan mesin dan AI, tetapi juga terhimpit dengan algoritma dingin yang memeras tenaga tanpa mengenal jaminan sosial,” ungkap Pulung.

Berbagai kondisi dan perubahan ini semestinya membuat pemerintah tidak lagi menggunakan kacamata lama dalam menyusun dan menerapkan kebijakan ketenagakerjaan. Perlindungan pekerja harus diwujudkan dalam bentuk yang paling nyata. 

"Kita tidak bisa membangun masa depan Indonesia di atas fondasi kemiskinan dan kerentanan pekerja. Negara harus hadir sebagai regulator yang menyeimbangkan kondisi ekonomi dan disrupsi teknologi dengan perlindungan yang kuat terhadap kaum pekerjanya," urai dia.

Diakui, dalam perkembangan teknologi dan AI saat ini tidak bisa dipungkiri usaha untuk terus menerus melakukan upskilling pada tenaga kerja adalah keharusan. Memang usaha ini bukan semata-mata tugas negara. Dibutuhkan juga peran swasta untuk meningkatkan keterampilan pekerjanya.

“Tapi perlu ada dorongan serius dari pemerintah agar kemampuan pekerja kita terus meningkat.”

Namun demikian, tak bisa dipungkiri saat ini tuntutan pekerja Indonesia masih berkutat pada hal-hal dasar seperti upah yang manusiawi, kontrak kerja yang tidak eksploitatif, perlindungan dari kecelakaan kerja sampai tunjangan hari tua.

“Kita tentu sedih, sejak Indonesia merdeka problem dasar pekerja kita sampai saat ini masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan secara tuntas,” ujarnya. 

Pulung juga menambahkan, hari-hari belakangan ini bukan hanya pekerja di sektor swasta saja yang perlu diberikan perlindungan. Bahkan pekerja di sektor pemerintahan juga tidak luput dari suasana ketidakpastian.

“Kondisi fiskal pemerintahan daerah memungkinkan terjadinya badai PHK untuk tenaga PPPK. Bayangkan, bekerja di pemerintahan yang selama ini dianggap paling stabil dan aman, kini menghadapi tantangan tersendiri. Ini membuat kita semua miris," pungkasnya.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 40 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 7 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 7 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia