Survei: Jokowi Jadi Magnet Utama, Bakal Dongkrak Citra Positif PSI
JAKARTA, investor.id - Hasil survei terbaru Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) menunjukkan keberpihakan sosok Joko Widodo (Jokowi) bisa memberikan pengaruh signifikan terhadap citra dan tingkat kepercayaan publik terhadap PSI.
Hasil survei tersebut merupakan cermin realitas politik di Indonesia yang masih bertumpu pada kekuatan figur dan berdampak pula terhadap citra partai politik.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI, Fernando Emas saat merilis hasil survei nasional LPI bertajuk 'Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam Pandangan Masyarakat' di kawasan Semanggi, Jakarta, Jumat (19/6/2026).
"Dari temuan survei LPI, 'image transfer' terjadi antara figur Jokowi dengan PSI yang dikabarkan bakal menjadi Ketua Dewan Pembina partai ini. Hasil survei terlihat, bahwa rerata 70,2% masyarakat menilai bahwa kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan kesan atau citra positif terhadap partai," ujar Fernando dalam rilis hasil survei tersebut.
Dari angka survei tersebut, kata Fernando, sebanyak 37,7% responden menilai Jokowi dapat meningkatkan citra PSI, lalu 26,4% responden menjawab cukup dapat meningkatkan, dan 6,1% responden menilai sangat dapat meningkatkan citra PSI. Sementara 15,5% responden menjawab tidak dapat meningkatkan, dan 10,5% responden menjawab kurang dapat meningkatkan dan sebanyak 3,8% responden memilih tidak menjawab.
Survei LPI ini juga menunjukkan, rerata 77,8% masyarakat menilai bahwa Jokowi memiliki pengaruh terhadap dukungan masyarakat ke PSI. Dengan rincian sebanyak 35,8% menjawab berpengaruh, 30,9% responden menjawab cukup berpengaruh, dan 11,1% responden menilai sangat berpengaruh. Sedangkan 16,9% responden menjawab kurang berpengaruh, dan 35% responden menjawab tidak berpengaruh serta 1,8% responden memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu.
Menurut Fernando, citra positif itu pada akhirnya akan mengasosiasikan figur tersebut terhadap PSI, tetapi juga atribusi atau identitas lain yang muncul dari pandangan atau penilaian responden. Seperti halnya persepsi publik terhadap figur Jokowi yang dikenal merakyat dan gaya kepemimpinannya yang unik dan khas.
"Dari temuan survei menunjukkan, rerata 64,9% masyarakat menilai bahwa PSI merupakan partai yang merakyat seperti Jokowi. Dengan rincian penilaian, sebanyak 30,5% responden menjawab cukup merakyat, 25,5% menjawab merakyat, dan 8,9% responden menjawab sangat merakyat. Lalu sebanyak 21,4% responden menyebutkan kurang merakyat, 11,7% responden menjawab tidak merakyat dan 2% responden memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu," beber Fernando.
Terkait variabel kepemimpinan, survei menunjukkan sebanyak 62,8% masyarakat menilai bahwa partai PSI merupakan partai yang mencerminkan gaya kepemimpinan Jokowi dengan perincian sebesar 32,3% responden menjawab cukup mencerminkan, lalu 24,6% responden menyebutkan mencerminkan, dan sebanyak 5,9% responden menjawab sangat mencerminkan.
Sedangkan 17,9% responden menjawab tidak mencerminkan dan 12,1% responden menyebutkan kurang mencerminkan serta sebanyak 7,3% responden memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu.
"Angka-angka ini menegaskan bahwa di mata publik, PSI dan Jokowi praktis sudah menjadi satu paket identitas politik. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi komunikasi politik partai yang konsisten sejak bergabungnya pendukung Jokowi ke PSI hingga terpilihnya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum," pungkas Fernando.
Survei LPI ini digelar secara daring di 32 provinsi pada 10-17 Juni 2026 terhadap 1.922. Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau yang telah memiliki hak pilih, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Margin of error survei sebesar ±2,54 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sampel dalam survei ini diambil menggunakan metode multistage random sampling dengan teknik stratified quota sampling berdasarkan wilayah, jenis kelamin, kelompok usia, dan pendidikan, untuk memastikan komposisi sampel mendekati karakteristik populasi.
Editor: Imam Suhartadi
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






