Menu
Sign in
@ Contact
Search

BeritaSatu Media Holding Masuk 12 Grup Besar Penguasa Media

Kamis, 8 Maret 2012 | 17:53 WIB
Antara (redaksi@investor.id)

JAKARTA - BeritaSatu Media Holding termasuk dalam 12 grup media besar  yang menguasai hampir seluruh kanal media di Indonesia. Demikian hasil riset Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) yang diumumkan di Jakarta, Kamis.

"Hasil penelitian kami bekerja sama dengan lembaga non pemerintah Hivos Asia Tenggara menunjukkan bahwa ada 12 grup media besar yang menguasai Indonesia," kata Peneliti CIPG Yanuar Nugroho didampingi peneliti lainnya yakni Dinita Andriani Putri dan Muhammad Fajri Siregar.

Dia menjelaskan, grup tersebut adalah MNC Media Group, Jawa Pos Group, Kompas Gramedia Group, Mahaka Media Group, Elang Mahkota Teknologi, CT Corp, Visi Media Asia, Media Group, MRA Media, Femina Group, Tempo Inti Media dan BeritaSatu Media Holding.

BeritaSatu Media Holding merupakan perusahaan multimedia terintegrasi yang di dalamnya terdapat banyak media dan brand, termasuk media cetak berbahasa Indonesia, yakni Suara Pembaruan dan Investor Daily. Ada juga media cetak berbahasa Inggris, yaitu Jakar ta Globe dan Strait Times Indonesia, surat kabar hasil kerja sama dengan Singapore Press.

Grup media ini juga menerbitkan dua majalah bisnis terkemuka di Indonesia, yaitu Majalah Investor dalam bahasa Indonesia dan Globe Asia dalam bahasa Inggris. Perusahaan juga menerbitkan media The Peak, Campus Asia, dan Kemang Buzz.  Beritasatu Media Holdings juga menerbitkan media portal 24 jam BeritaSatu.com dan BeritaSatu TV.

Yanuar Nugroho mengatakan, meskipun konsentrasi kepemilikan media semacam itu bukanlah monopoli, struktur industri seperti itu mempunyai implikasi serius dalam konteks ruang publik dalam bermedia.

Para peneliti, tambah Yanuar, menilai bahwa konsentrasi kepemilikan berdampak tak hanya pada keputusan redaksi lewat intervensi pemilik melalui "agenda setting" namun corak industri media juga mengakibatkan terjadinya uniformitas isi media karena prinsip pasar dan mengejar rating.

Dalam konteks tersebut, kata dia, pemusatan kepemilikan tersebut bisa jadi disebabkan oleh tidak tegasnya regulator.

"Lembaga penyiaran publik seperti TVRI dan RRI seharusnya menjadi pilihan untuk mengimbangi media swasta baik dalam sisi konten maupun jangkauan penyiaran sehingga saat industri media mengedepankan aspek komersil dari pemberitaan, penyiaran publik harusnya bisa tampil lebih strategis dan bebas dari kepentingan modal dan berpihak ke publik," katanya.

Aspirasi publik yang tidak tertampung di media arus utama mendorong munculnya media komunitas dan media online alternatif meskipun pada perkembangannya terhambat oleh regulasi yang kurang mendukung.

"Internet sebagai salah satu harapan bagi partisipasi warga dalam bermedia melalui jejaring sosial dan blog juga terhambat oleh ketidakmerataan infrastrukturnya yang masih terpusat di Indonesia bagian Barat," kata Yanuar seperti dikutip Antara.

Riset CIPG dan HIVOS menegaskan bahwa pemerataan infrastruktur media dan penguatan institusi media publik adalah sarana untuk mengembalikan ruang publik dalam bermedia.

"Tentu saja hal ini perlu di dukung oleh pemerintah lewat kebijakan media yang memadai dan juga keterlibatan masyarakat dalam menuntut haknya dalam bermedia," katanya. (*/gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com