Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Bank Dunia: Kenaikan Harga Energi Sebabkan Pemerintah Dilema

Penulis : Triyan Pangastuti
22 Jun 2022 | 13:21 WIB
BAGIKAN
Petugas mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada konsumen di SPBU di Bojongsari, Depok. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Petugas mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada konsumen di SPBU di Bojongsari, Depok. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

JAKARTA, investor.id - Kepala Ekonom Bank Dunia Indonesia dan Timor Leste Habib Rab memproyeksi, subsidi energi Indonesia secara eksplisit di tahun ini menjadi 0,9% terhadap PDB atau meningkat tipis dibandingkan subsidi energi di tahun lalu tercatat 0,8% terhadap PDB. Dengan naiknya harga komoditas energi global juga diyakini telah menyebabkan trade off atau dilema bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan.

"Penggunaan subsidi energi dilakukan untuk mengelola pergerakan harga minyak dunia kedalam harga BBM domestik. Namun bantuan subsidi energi digunakan hanya untuk jangka pendek untuk meminimalisir tekanan harga komoditas, sehingga reformasi subsidi masih harus terus dilakukan," ucapnya dalam Indonesia Economic Prospect, Rabu (22/6/2022).

Sementara itu, secara implisit, kenaikan harga energi telah berdampak pada beban kompensasi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni Pertamina dan PLN. Sebab, perusahaan masih harus menjual harga BBM dibawah harga keekonomiannya. Begitu pula dengan tarif listrik yang tidak dinaikkan disaat harga energi menanjak. Langkah ini dilakukan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi khususnya agar inflasi tidak meningkat serta menjaga daya beli masyarakat.

ADVERTISEMENT

"BUMN (Pertamina dan PLN) menjual listrik dan bahan bakar di bawah harga pasar dampaknya (beban) diproyeksikan meningkat dari 0,7% dari PDB pada tahun 2021 menjadi satu setengah persen dari PDB pada tahun 2022. Jadi hampir dua kali lipat subsidi ini akan membantu menjaga inflasi harga konsumen dalam jangka pendek dan ini dapat membantu mempertahankan pemulihan permintaan domestik," tegasnya.

Habib menekankan, terdapat dua alasan pemerintah harus mempercepat reformasi subsidi energi menjadi penyaluran tertutup. Pertama skema subsidi energi saat ini sebagian besar masih menguntungkan rumah tangga kelas menengah dan atas, karena kelompok tersebut mengkonsumsi solar bersubsidi dan LPG bersubsidi dalam porsi yang besar.

"Jika kedua subsidi ini diganti dengan transfer sosial yang ditargetkan untuk masyarakat miskin, rentan dan kelas menengah yang bercita-cita tinggi, pemerintah dapat memiliki tambahan 0,6% dari PDB untuk belanja prioritas pembangunan," kata Habib.

Lebih lanjut Habib mengatakan, saat ini pemerintah telah menaikkan jenis bahan bakar minyak tertentu (Pertamax). Namun kebijakan ini dinilainya berdampak sangat kecil pada subsidi. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk mencari jalan keluar secara bertahap dan terukur untuk mengatasi masalah naiknya harga komoditas selain melalui kenaikan subsidi. Lantaran subsidi energi hanya mampu menahan lonjakan inflasi dalam jangka pendek, apalagi kenaikan harga komoditas diproyeksikan akan tetap ada kedepan.

"Ada sebaiknya (pemerintah)memikirkan rencana keluar bertahap dan terukur dan ini mungkin memerlukan langkah bertahap. melewati harga global untuk menghindari penyesuaian tajam dari perubahan harga yang permanen. Sekarang dengan asumsi bahwa subsidi membantu menahan biaya jangka pendek, mendorong tekanan harga, ini akan memungkinkan beberapa jeda untuk kebijakan moneter untuk menyesuaikan secara bertahap," tutupnya.  

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 11 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 22 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 26 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia