Jumat, 15 Mei 2026

Obat Pelemahan Rupiah dalam Jangka Pendek Cuma Ini

Penulis : Harso Kurniawan
4 Nov 2022 | 19:32 WIB
BAGIKAN
Teller memegang mata uang dolar AS dan rupiah di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Subur Atmamihardja/wsj/foc)
Teller memegang mata uang dolar AS dan rupiah di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Subur Atmamihardja/wsj/foc)

JAKARTA, Investor.id – Obat atau strategi menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek hanya penaikan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Hal ini harus dilakukan di tengah manuver beringas bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve menaikkan bunga acuan Federal Funds Rate (FFR).

Pekan ini, The Fed menaikkan FFR 75 basis poin (bps) ke level 3,75-4% dan akan terus berlanjut sampai tahun depan. Tanpa kenaikan BI7DRR, pelemahan rupiah tak bisa dibendung, lantaran modal asing keluar (capital outflow) bakal kian deras.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menyatakan, penaikan BI7DRR diperlukan untuk menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah. Dia meyakini, tak ada lagi yang bisa dilakukan dalam jangka pendek untuk menjinakkan kekuatan dolar AS.

Saat ini, BI7DRR berada di level 4,75%. Esther menilai, suku bunga acuan perlu dinaikkan berkisar 25-50 basis poin (bps) untuk mengimbangi FFI.

ADVERTISEMENT

“Tetapi, ini jurus sementara. Jurus permanen yang sifatnya lebih Jangka panjang adalah dengan menaikkan ekspor dan investasi. Khusus ekspor, kita harus ekspor produk bernilai tambah tinggi agar devisanya makin besar, sehingga makin banyak dolar AS yang bisa kita raih,” kata dia.

Kemudian, dia mengatakan, investasi sebaiknya diarahkan ke sektor rill. Artinya, investor membangun pabrik biar ada pembukaan lapangan pekerjaan, sehingga pengangguran turun. Lalu, kembangkan sektor pariwisata lebih baik lagi agar devisa makin banyak mengalir ke Indonesia

Dia mengakui, penaikan suku bunga radikal akan menghantam sejumlah sektor, seperti properti dan sektor yang membutuhkan banyak kredit bank. Artinya, Bank Indonesia (BI) berada dalam posisi dilematis.

Dalam keadaaan seperti ini, dia menyatakan, fundamental ekonomi nasional harus diperkuat, yakni mandiri pangan, produksi barang sendiri, dan banyak variasi sumber penerimaan negara. “Intinya jangan banyak impor dan utang luar negeri,” kata dia.

Berdasarkan kurs JISDOR BI, rupiah, Jumat (4/11/2022), menembus Rp 15.700 atau tepatnya Rp 15.736, melemah 1,2% dibandingkan pekan lalu Rp 15.542 per dolar AS. Sejumlah kalangan menilai, rupiah bisa menembus Rp 16 ribu per dolar AS dalam waktu dekat.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 17 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 49 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia