Minggu, 21 Juni 2026

Kredit UMKM Anjlok di Kuartal I-2026, Masih Bisa Berlanjut hingga Akhir Tahun

Penulis : Prisma Ardianto
20 Apr 2026 | 17:23 WIB
BAGIKAN
Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan getah nyatu di rumah produksi Getah Nyatu Pandji, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan getah nyatu di rumah produksi Getah Nyatu Pandji, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

JAKARTA, investor.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperingatkan tantangan besar dalam pemerataan pembiayaan nasional. Meski kredit perbankan secara agregat tumbuh solid 10,42% (yoy) pada Kuartal I-2026, segmen UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 3,57% yang diprediksi bisa berlanjut hingga akhir tahun—berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, seperti dikutip dari Antara pada Senin (20/4/2026), menilai pertumbuhan kredit dua digit tersebut belum mencerminkan kualitas pertumbuhan yang merata. Ekspansi saat ini masih terkonsentrasi pada segmen korporasi, komersial, dan konsumsi yang memiliki risiko lebih terukur.

“Pertumbuhan kredit 10,42% pada Kuartal I-2026 menunjukkan ekspansi yang masih solid, tetapi belum mencerminkan kualitas pertumbuhan yang merata,” ujar Rizal.

ADVERTISEMENT

Rizal menyoroti fenomena credit rationing atau pembatasan kredit oleh perbankan terhadap sektor UMKM. Hal ini dipicu oleh kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) UMKM yang menyentuh angka 4,55% pada Maret 2026. Meski masih di bawah ambang 5%, angka ini menjadi sinyal peringatan dini bagi industri perbankan.

“Jika tren ini berlanjut, perbankan akan semakin berhati-hati dan potensi kontraksi kredit UMKM bisa berlanjut sepanjang 2026,” tambahnya.

Menurut Indef, likuiditas perbankan saat ini relatif longgar, namun preferensi risiko bank cenderung lebih selektif akibat peningkatan NPL. Kondisi ini menunjukkan adanya celah lebar antara pemulihan ekonomi agregat dengan distribusi pembiayaan yang inklusif bagi pelaku usaha kecil.

Untuk mengatasi risiko bias pertumbuhan tersebut, Rizal menyarankan pemerintah menggeser strategi kebijakan dari sekadar mendorong volume kredit menuju pendekatan mitigasi risiko. Langkah kunci yang diperlukan mencakup penguatan skema penjaminan, optimalisasi KUR, serta integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri besar.

Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, pertumbuhan kredit nasional dikhawatirkan hanya akan menguntungkan sektor korporasi besar dan gagal mendukung transformasi ekonomi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 5 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 36 menit yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 6 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 6 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 7 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia