Inggris Mengarah ke Resesi, Bisa Menular ke Zona Euro
JAKARTA, Investor.id - Perekonomian Inggris mengalami kontraksi pada kuartal ketiga, menandai dimulainya resesi yang berikutnya diproyeksikan akan melanda Eropa.
Dilaporkan media setempat melansir Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics/ONS) pada Jumat (11/11/2022), PDB Inggris turun 0,2% antara Juli dan September, mengakhiri lima kuartal pertumbuhan berturut-turut.
Inggris adalah satu-satunya negara ekonomi G7 yang mengalami kontraksi pada kuartal ketiga dan angka pertumbuhan kuartal III tercatat 0,4% lebih kecil dibanding akhir tahun 2019, sebelum pandemi Covid-19 merebak.
“Penurunan triwulanan didorong oleh manufaktur, yang mengalami penurunan di sebagian besar industri. Industri jasa secara keseluruhan tidak bertumbuh alias flat, sementara industri yang terkait langsung dengan konsumen seperti industri ritel menurun signifikan.” kata Direktur Statistik Ekonomi ONS Darren Morgan dalam sebuah pernyataan tertulisnya yang dikutip CNN, Sabtu (12/11/2022)
Hari libur ekstra bagi perbankan saat pemakaman Ratu Elizabeth II pada 19 September juga disebut telah berperan dalam kontraksi, karena beberapa bisnis harus tutup atau menyesuaikan operasi mereka pada saat pemakaman Ratu. ONS menyebut PDB turun 0,6% pada bulan September.
Penurunan PDB mencerminkan perlambatan ekonomi secara lebih luas, dengan pendapatan rumah tangga yang berkurang akibat tinggi selama beberapa dekade, suku bunga meningkat dan kepercayaan bisnis dan konsumen melemah.
"Keinginan belanja konsumen yang lebih rendah kemungkinan akan ikut mendorong PDB ke kontraksi kedua berturut-turut selama kuartal keempat," kata James Smith, ekonom ING dalam sebuah catatannya pada hari Jumat (11/11/2022).
Resesi Mengintai Eropa
Sebelumnya bank sentral Inggris, Bank of England telah memperingatkan pekan lalu bahwa ekonomi Inggris dapat mengalami resesi terpanjang sejak 1940-an. Dan kontraksi kuartal ketiga kontras dengan ekspansi ekonomi sebesar 0,2% yang terjadi di Perancis dan Jerman, serta pertumbuhan 0,5% di Italia. Namun demikian Bank Sentral juga memaparkan bahwa gambaran di Eropa bakal berubah.
Komisi Uni Eropa pun pada Jumat (11/11/2022) memperingatkan bahwa inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga bisa membawa zona Euro ke dalam resesi pada kuartal keempat. Komisi Uni Eropa pun memperkirakan inflasi akan mencapai puncaknya pada akhir tahun di level 8,5%.
“Karena inflasi terus memotong pendapatan rumah tangga, kontraksi kegiatan ekonomi akan berlanjut pada kuartal pertama tahun 2023,” kata Komisi Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.
Namun demikian, Komisi UE masih memperkirakan pertumbuhan PDB di zona Euro masih tetap positif pada tahun 2023 dan 2024. Sebaliknya, Bank of England memperkirakan pekan lalu bahwa kuartal ketiga akan menjadi awal dari resesi yang berlangsung dua tahun di Inggris.
Resesi ini diperkirakan akan menjadi yang terpanjang sejak Perang Dunia II dan melampaui penurunan pertumbuhan ekonomi akibat krisis keuangan global 2008. Namun Bank of England juga memperkirakan penurunan PDB Inggris menjelang 2024 akan relatif kecil.
Pertumbuhan ekonomi yang melemah seperti menjadi tekanan ganda bagi pemerintah Inggris setelah mencoba memulihkan kredibilitas di hadapan para investor dengan penurunan poundsterling, diikuti jatuhnya pasar obligasi pada bulan September akibat oleh rencana mantan Perdana Menteri Liz Truss untuk memangkas pajak.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






