Jumat, 15 Mei 2026

Inggris Mengarah ke Resesi, Bisa Menular ke Zona Euro

Penulis : Fajar Widhiyanto
12 Nov 2022 | 14:05 WIB
BAGIKAN
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak berbicara selama Pertanyaan Perdana Menteri (PMQs) pertamanya di House of Commons London, Inggris pada 26 Oktober 2022. (FOTO: JESSICA TAYLOR / AFP / UK PARLIAMENT)
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak berbicara selama Pertanyaan Perdana Menteri (PMQs) pertamanya di House of Commons London, Inggris pada 26 Oktober 2022. (FOTO: JESSICA TAYLOR / AFP / UK PARLIAMENT)

JAKARTA, Investor.id - Perekonomian Inggris mengalami kontraksi pada kuartal ketiga, menandai dimulainya resesi yang berikutnya diproyeksikan akan melanda Eropa.

Dilaporkan media setempat melansir Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics/ONS) pada Jumat (11/11/2022), PDB Inggris turun 0,2% antara Juli dan September, mengakhiri lima kuartal pertumbuhan berturut-turut.

Inggris adalah satu-satunya negara ekonomi G7 yang mengalami kontraksi pada kuartal ketiga dan angka pertumbuhan kuartal III tercatat 0,4% lebih kecil dibanding akhir tahun 2019, sebelum pandemi Covid-19 merebak.

“Penurunan triwulanan didorong oleh manufaktur, yang mengalami penurunan di sebagian besar industri. Industri jasa secara keseluruhan tidak bertumbuh alias flat, sementara industri yang terkait langsung dengan konsumen seperti industri ritel menurun signifikan.” kata Direktur Statistik Ekonomi ONS Darren Morgan dalam sebuah pernyataan tertulisnya yang dikutip CNN, Sabtu (12/11/2022)

ADVERTISEMENT

Hari libur ekstra bagi perbankan saat pemakaman Ratu Elizabeth II pada 19 September juga disebut telah berperan dalam kontraksi, karena beberapa bisnis harus tutup atau menyesuaikan operasi mereka pada saat pemakaman Ratu. ONS menyebut PDB turun 0,6% pada bulan September.

Penurunan PDB mencerminkan perlambatan ekonomi secara lebih luas, dengan pendapatan rumah tangga yang berkurang akibat tinggi selama beberapa dekade, suku bunga meningkat dan kepercayaan bisnis dan konsumen melemah.

"Keinginan belanja konsumen yang lebih rendah kemungkinan akan ikut mendorong PDB ke kontraksi kedua berturut-turut selama kuartal keempat," kata James Smith, ekonom ING dalam sebuah catatannya pada hari Jumat (11/11/2022).

Resesi Mengintai Eropa

Sebelumnya bank sentral Inggris, Bank of England telah memperingatkan pekan lalu bahwa ekonomi Inggris dapat mengalami resesi terpanjang sejak 1940-an. Dan kontraksi kuartal ketiga kontras dengan ekspansi ekonomi sebesar 0,2% yang terjadi di Perancis dan Jerman, serta pertumbuhan 0,5% di Italia. Namun demikian Bank Sentral juga memaparkan bahwa gambaran di Eropa bakal berubah.

Komisi Uni Eropa pun pada Jumat (11/11/2022) memperingatkan bahwa inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga bisa membawa zona Euro ke dalam resesi pada kuartal keempat. Komisi Uni Eropa pun memperkirakan inflasi akan mencapai puncaknya pada akhir tahun di level 8,5%.

“Karena inflasi terus memotong pendapatan rumah tangga, kontraksi kegiatan ekonomi akan berlanjut pada kuartal pertama tahun 2023,” kata Komisi Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

Namun demikian, Komisi UE masih memperkirakan pertumbuhan PDB di zona Euro masih tetap positif pada tahun 2023 dan 2024. Sebaliknya, Bank of England memperkirakan pekan lalu bahwa kuartal ketiga akan menjadi awal dari resesi yang berlangsung dua tahun di Inggris.

Resesi ini diperkirakan akan menjadi yang terpanjang sejak Perang Dunia II dan melampaui penurunan pertumbuhan ekonomi akibat krisis keuangan global 2008. Namun Bank of England juga memperkirakan penurunan PDB Inggris menjelang 2024 akan relatif kecil.

Pertumbuhan ekonomi yang melemah seperti menjadi tekanan ganda bagi pemerintah Inggris setelah mencoba memulihkan kredibilitas di hadapan para investor dengan penurunan poundsterling, diikuti jatuhnya pasar obligasi pada bulan September akibat oleh rencana mantan Perdana Menteri Liz Truss untuk memangkas pajak.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 25 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 57 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia