Masuk Bisnis Hilir, Jurus Petani Sawit Lawan EUDR
Sebuah Merek
Gulat menjelaskan, sebenarnya UE adalah sebuah brand. Karena itu, EUDR harus diatasi dengan mendorong perusahaan penyuplai CPO dari Indonesia yang selama ini memasok kebutuhan UE supaya mengadopsi EUDR. “CPO yang masuk ke UE itu 100% sudah bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), jadi menggeser RSPO ke EUDR enggak sulit karena hampir sama, beda stempel saja,” jelas Gulat. Saat ini, produksi CPO nasional yang sudah bersertifikat RSPO mencapai 8 juta ton, sementara kebutuhan EUDR (UE) itu tidak banyak hanya 2-3 juta ton per tahun. “Hanya saja, CPO yang sudah EUDR ini tentu saja harganya tidak sama dengan yang belum tersertifikasi EUDR. Karena ada biaya tambahan, sehingga CPO-nya akan lebih mahal. Pertanyaannya, maukah UE membayar lebih mahal? Sedangkan potensi kerugian RI yang disebutkan sampai Rp 104 triliun (US$ 7 miliar) akibat EUDR itu masih abstrak,” tandas Gulat.
Alihkan Ekspor dan Negosiasi, Jurus Tepat bagi RI Hadapi EUDR
Lebih jauh Gulat menyatakan, dengan implementasi EUDR, sudah saatnya Indonesia memacu serapan domestik untuk produk oleo dan turunan lainnya. "Tingkatkan serapan domestik untuk produk oleo dan turunan lainnya. Kenapa serapan domestik jadi kunci, karena sesungguhnya RI itu negara produsen sekaligus konsumen CPO terbesar di dunia, hampir 50% produksi CPO kita dikonsumsi dalam negeri,” ujar dia.
Editor: Tri Listiyarini
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






