Airlangga: Sawit Solusi Berkelanjutan Hadapi Lonjakan Permintaan Minyak Nabati
NUSA DUA, investor.id – Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa sawit merupakan komoditas berkelanjutan untuk memenuhi lonjakan permintaan minyak nabati. Pasalnya, luas lahan yang dibutuhkan untuk penanaman sawit jauh lebih sedikit dibandingkan komoditas lainnya untuk menghasilkan minyak nabati.
“Minyak kelapa sawit adalah cara yang berkelanjutan dan efisien untuk memenuhi permintaan minyak nabati yang terus meningkat,” tutur Airlangga dalam sambutannya secara daring di Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2023, Bali International Convention Center, Bali, pada Kamis (2/11/2023).
Airlangga menerangkan, populasi dunia diperkirakan mencapai 9,8 miliar pada tahun 2050, yang memerlukan tambahan 200 juta ton produksi minyak nabati. Kelapa sawit dapat memenuhi kebutuhan tersebut karena menghasilkan 5 Metric Ton per Hectare (MT/Ha) dan hanya membutuhkan lahan seluas 40 juta Ha.
“Luas lahan yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dibandingkan minyak nabati lainnya, seperti kedelai dan kanola, yang masing-masing membutuhkan lahan seluas 445 juta Ha dan 290 juta Ha,” kata Airlangga.
Kelapa sawit, lanjut Airlangga, mendukung penyediaan bahan bakar transportasi yang lebih ramah lingkungan. Misalnya bahan bakar penerbangan berkelanjutan dimana Indonesia telah mengembangkan SAF yang dikenal dengan BioAvtur 2.4% atau J2.4.
Selain dapat memenuhi lonjakan permintaan minyak nabati secara berkelanjutan, industri kelapa sawit juga telah berhasil berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja produktif dan kesempatan kerja, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan penyediaan barang-barang konsumsi.
Lebih dari itu, industri sawit pun berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan di kalangan petani pedesaan termasuk petani kecil. Hal ini turut berkorelasi positif dengan pencapaian SDGs PBB.
Kontribusi industri kelapa sawit terhadap pembangunan sosial-ekonomi nasional juga selaras dengan target lingkungan hidup Indonesia yang ambisius pada tahun 2030. Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca atau GRK melalui ratifikasi Perjanjian Paris.
Sejauh ini untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit, Indonesia telah melakukan penanaman kembali seluas 200.000 hektar sejak tahun 2007 dan tahun ini kembali dilakukan penanaman seluas 180.000 hektar dengan alokasi anggaran sebesar US$ 386 juta.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






