Jumat, 15 Mei 2026

Jokowi: Harga Beras Mahal karena Perubahan Iklim

Penulis : Tri Listiyarini
20 Feb 2024 | 08:31 WIB
BAGIKAN
Presiden Joko Widodo saat berdialog dengan para keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan pangan beras di Gedung Kawasan Pertanian Terpadu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin (19/02/2024), (Sumber : Istimewa)
Presiden Joko Widodo saat berdialog dengan para keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan pangan beras di Gedung Kawasan Pertanian Terpadu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin (19/02/2024), (Sumber : Istimewa)

JAKARTA, investor.id–Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa kenaikan harga beras yang terjadi saat ini merupakan dampak dari perubahan iklim. Perubahan iklim telah membuat kondisi cuaca tidak mendukung kegiatan budi daya tanaman padi sehingga banyak terjadi gagal panen yang berakhir pada menyusutnya produksi beras.

Untuk mengatasi kenaikan harga beras tersebut, pemerintah terus melanjutkan penyaluran bantuan pangan beras (BPB) bagi masyarakat yang membutuhkan, setidaknya hingga akhir Juni tahun ini.

Saat menyerahkan BPB yang bersumber dari cadangan beras pemerintah (CBP) kepada masyarakat atau keluarga penerima manfaat (KPM) di Gedung Kawasan Pertanian Terpadu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin (19/02/2024), Presiden menjelaskan, BPB tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membantu masyarakat di tengah kenaikan harga pangan utamanya beras secara global yang masih terjadi hingga saat ini.

“Kenapa (harganya) naik? Karena ada yang namanya perubahan iklim, perubahan cuaca, sehingga banyak yang gagal panen padahal yang makan tetap, produksinya berkurang, sehingga harganya menjadi naik. Dan pemerintah kita membantu bantuan beras ini agar meringankan ibu-ibu semuanya karena tadi harganya naik,” ujar Presiden.

ADVERTISEMENT

Dalam keterangan yang dikutip pada hari yang sama, Jokowi menyampaikan, setelah Juni 2024, BPB akan dilanjutkan apabila APBN mencukupi. Saat berdialog dengan masyarakat/KPM, Presiden memastikan bahwa masyarakat telah menerima BPB pada Januari 2024.

“Untuk Januari sudah terima? Ini yang Januari. Nanti Februari dan Maret dapat lagi. Siapa yang enggak setuju? April, Mei, dan Juni dapat lagi. Nanti setelah Juni, kita lihat APBN-nya mencukupi tidak. Kalau mencukupi dilanjutkan lagi. Berarti sudah terima semua? Sudah terima semuanya,” tutur Kepala Negara di hadapan 1.064 KPM. Penyaluran BPB 10 kilogram (kg) per KPM per bulan.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) Arief Prasetyo Adi, saat mendampingi Presiden Jokowi, mengatakan, BPB akan terus dilanjutkan hingga Juni sesuai arahan Presiden. Pada momentum pilpres 14 Februari 2024, penyaluran BPB sempat distop sementara untuk menghormati masa tenang pemilu.

“Kami mohon maaf kepada seluruh masyarakat atas penundaan ini. Namun sehari setelah pemilu, BPB langsung digelontorkan lagi. Dan saat ini Bapak Presiden minta agar terus dipastikan penyalurannya kepada 22 juta masyarakat berpendapatan rendah. Hari ini bersama Bapak Presiden kita pastikan penyaluran BPB ke masyarakat dan tentunya di wilayah-wilayah lain kita pastikan juga dilakukan hal sama seperti di Sulawesi dan Bali,” ujar dia.

Arief juga mengungkapkan, stok beras Perum Bulog secured untuk menghadapi Puasa-Lebaran tahun ini. “Kita pastikan Puasa-Lebaran beras itu ada dan cukup. Stok Bulog hari ini 1,4 juta ton dan ini harus terus didorong untuk masuk ke PIBC, pasar tradisional, dan retail modern. Dalam beberapa hari terakhir ini stok beras di retail modern sudah mulai normal lagi,” tutur dia.

Per 17 Februari 2024, realisasi penyaluran BPB 2024 tahap I oleh Bulog untuk alokasi Januari 193.368 ton atau 87,87% dari pagu sasaran per bulan 220.041ton. Untuk realisasi Februari 3.084 ton atau 1,4% dari pagu bulanan. Khusus Banten, realisasi BPB Januari 3.693 ton atau 54,91% dari pagu bulanan 6.725 ton.

Digenjotnya penyaluran BPB merupakan bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat dan berkaitan dengan upaya pengendalian inflasi khususnya beras. Pada Januari 2024, beras menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar 0,56% (year-on-year/yoy). Penyaluran BPB terbukti efektif menekan laju inflasi beras. Pada periode penyaluran BPB 2023 inflasi beras pada Maret 2023 sebesar 0,7% turun menjadi 0,2%.

Kemudian, inflasi beras November 2023 sebesar 5,61% turun menjadi 0,4% seiring penyaluran BPB tahap kedua di tahun itu. Untuk realisasi penyaluran beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) 2024, hingga 17 Februari 2024 mencapai 264 ribu ton, dengan alokasi penyaluran terbesar di wilayah DKI Jakarta dan Banten, Jawa Timur, serta Jawa Barat. 

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 39 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 43 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia