Jokowi Bangun MRT, LRT, dan Kereta Cepat Meski Tau akan Rugi, Kenapa?
Lebih lanjut, Presiden Jokowi turut menyampaikan rekomendasi pengadaan modal transportasi massal alternatif yakni kereta otonom atau autonomous rail transit (ART) kepada para gubernur dan bupati/walikota. Jokowi menyebut moda transportasi ini punya biaya yang lebih rendah, baik saat pembangunan maupun biaya yang dikeluarkan dalam operasionalnya.
“Kalau yang ini, autonomous rail transit itu memang lebih murah karena tanpa rel, pakai magnet. Per unitnya untuk tiga gerbong harganya kurang lebih Rp 74 miliar... Operasional per bulan Rp 500 juta,” terang Presiden Jokowi.
“Itu kota-kota yang mulai macet, tidak hanya di Jawa saja, di luar Jawa sudah mulai macet, macet, macet. Ini mulai harus dipikirkan transportasi massalnya apa,” imbuh dia.
Kereta otonom ini yang rencananya akan dipakai dan bakal diuji coba di IKN. Meski begitu, Presiden Jokowi juga mengaku belum memutuskan untuk benar-benar memakai moda transportasi tersebut di IKN.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa mau tidak mau para pemerintah daerah sudah saatnya memikirkan dan merancang transportasi publik yang memadai dan tentu ramah lingkungan. Sebab, kerugian yang dialami dari kemacetan sangatlah besar.
“Kalau tidak ada MRT, tidak ada LRT, tidak ada kereta cepat itu kita kehilangan setiap tahun karena kemacetan itu Rp 65 triliun, kalau Jabodetabek mungkin sudah di atas Rp 100 triliun,” kata Jokowi.
“Pilih mana? Pilih dibelikan MRT, LRT, kereta cepat, atau uangnya hilang lebih dari 100 triliun setiap tahun? Semua kota utamanya harus mulai ngitung,” tandas Presiden Jokowi.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

