Startup RI Kembali Berpeluang Bangkit
JAKARTA, investor.id - Usaha rintisan berbasis teknologi Indonesia (startup RI) berpeluang kembali bangkit di tengah tren suku bunga acuan yang turun. Bisnis ini akan lebih mudah mendapatkan pendanaan (fundraising) dari para investor untuk pengembangan bisnis setelah 2-3 tahun terakhir menghadapi masa sulit dan belum efisien. Dua sektor utama, yakni sektor agrikultur dan perikanan, diprediksi menjadi penopang utama kebangkitannya.
Data Traxcn, platform survei dan konsultan terkait startup, menyebutkan, khusus di Tanah Air, pendanaan bisnis startup sangat terpuruk karena hanya mendapatkan US$ 191,13 juta semester I-2024, turun dalam senilai US$ 591,97 juta (75,59%) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 783,1 juta.
Baca Juga:
Bisnis Startup Terus Didorong BerkembangDengan fundraising tersebut, Indonesia pun hanya menempati peringkat ketiga dalam investasi startup di kawasan Asia Tenggara, setelah Singapura US$ 1,1 milar dan Thailand US$ 200 jutaan. Pendanaan di Indonesia tersebut pun hanya berkontribusi 11,95% dari total US$ 1,6 miliaran di Asia Tenggara pada semester I-2024.
Dalam ulasannya, Tracxn pun menyebutkan bahwa dengan perolehan total US$ 191 jutaan, Indonesia menjadi negara dengan pendanaan startup hanya di peringkat ke-29 secara global serta kalah dari Singapura dan Thailand. Padahal, Indonesia sempat selalu menjadi nomor di kawasan Asia Tenggara sebelum 2022.
Pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh startup di Tanah Air juga sempat mengguncang dengan gelombang terbesar pada 2022-2023. Pada 2023 saja, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (Grup GoTo), perusahaan startup terbesar di Tanah Air, dua kali melakukan PHK terhadap 1.300 orang dan 600 orang karyawan karena efisiensi dan mengejar keuntungan.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan, fenomena turunnya suku bunga acuab global menjadi peluang yang harus dimanfaatkan ekosistem startup di Indonesia untuk kembali menggaet investor, sehingga industrinya dapat pulih dari keterpurukan akibat sempat susah dapat pendanaan (tech winter).
Era suku bunga rendah diperkirakan tiba setelah sejumlah bank sentral mulai menurunkan suku bunga acuan. Terbaru, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, turunkan suku bunga acuan 50 basis points (bps) menjadi 4,75-5,0%, Rabu (18/9/2024) waktu AS. Pemangkasan suku bunga dilakukan seiring inflasi yang mendekati target 2%.
Bank Indonesia (BI) juga memangkas BI rate 25 bps menjadi 6% hari yang sama WIB. Pekan sebelumnya, Bank Sentral Eropa (The European Central Bank/ECB) juga telah melonggarkan kebijakan moneter dengan memangkas suku bunga simpanan 25 bps menjadi 3,50%.
"Itu artinya investor mulai mengeluarkan uang untuk bisnis (riil dan tak akan terlalu mengandalkan investasi portofolio surat berharga). Investasi di sektor-sektor yang bisa berkembang seperti startup," kata Budi, saat ditemui di sela gelaran NextHub Global Summit 2024 untuk startup di Kabupaten Badung, Bali, dikutip Selasa (24/9/2024.
Menurut dia, di tengah suku bunga dalam tren turun secara nasional maupun internasional, pemilik dana (investor) akan lebih merasa nyaman investasi pada sektor riil, antara lain startup, di tengah suku bunga yang lebih rendah dan kurang menarik untuk menaruh uang di deposito perbankan.
Hal yang senada diperkuat oleh pernyataan Pemimpin Nexticorn Foundation Rudiantara yang menyebutkan bahwa penurunan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia turut memberikan lampu hijau bahwa tech winter sudah mencair.
"Bagi saya, ini adalah cahaya dari ujung sebuah lorong, meski kini belum benar-benar sepenuhnya mencair. Tapi, setidaknya es yang membeku itu, musim dingin itu, sudah mulai meleleh," kata Rudiantara.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






