PMI Manufaktur Kontraksi Lagi, Imbas Investasi Lesu dan Gelombang PHK
JAKARTA, investor.id – Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali menunjukan perlambatan. Adapun PMI Manufaktur bulan Juni 2025 menunjukan kontraksi ke level 46,9 dari posisi 47,4 pada Mei 2025.
Menyangkut tren PMI Manufaktur itu, Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan, hal itu disebabkan oleh sektor industri yang masih menunggu paket kebijakan pro bisnis. Selain itu, adanya pelemahan permintaan pasar ekspor dan pasar domestik, serta penurunan daya beli masyarakat.
Sementara itu, Ekonomi Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati mengatakan bahwa terkontraksinya PMI Manufaktur berturut-turut mencerminkan makroekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
“Sinyal pelemahan datang dari dua sisi, yaitu investasi dan lapangan pekerjaan. Artinya, sebagian perusahaan kita bangkrut. Ini sinyal yang berbahaya bagi sisi manufaktur dengan penyerapan lapangan kerja yang tinggi. Ini bisa menjadi ruang bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali, ada apa dengan sektor yang padat karya dan sektor yang manufaktur?” Ucap Nina saat dihubungi, Rabu (2/7/2025).
Lebih lanjut, Nina menyebutkan bahwa gelombang PHK yang terjadi baru-baru ini juga disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang mengupayakan otomatisasi teknologi. Inovasi ini yang menyebabkan produktivitas naik namun memangkas lapangan kerja.
Menurut Nina, saat ini sektor manufaktur tengah terseok-seok. Namun ia melihat ada peluang di sektor pertanian yang justru bisa menjadi “senjata” terbaru Indonesia.
“Yang tumbuh dengan baik pada triwulan pertama justru adalah sektor pertanian. Ada peluang untuk shifting lapangan kerja kita. Dari pertanian lalu ke agribisnis, lalu ke manufaktur berbasis agribisnis. Ada sektor kelautan, kehutanan, perkebunan, sektor-sektor yang juga menopang ketahanan pangan. Nah ini yang bisa dilakukan Indonesia untuk swasembada pangan yang bisa mendorong ke sektor manufaktur,” pungkas Nina.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






