Jumat, 15 Mei 2026

PMI Manufaktur Kontraksi Lagi, Imbas Investasi Lesu dan Gelombang PHK

Penulis : Rama Sukarta
2 Jul 2025 | 15:26 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi. Sejumlah pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di salah satu pabrik garmen di Banjarnegara, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nz)
Foto ilustrasi. Sejumlah pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di salah satu pabrik garmen di Banjarnegara, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nz)

JAKARTA, investor.id – Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali menunjukan perlambatan. Adapun PMI Manufaktur bulan Juni 2025 menunjukan kontraksi ke level 46,9 dari posisi 47,4 pada Mei 2025.

Menyangkut tren PMI Manufaktur itu, Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan, hal itu disebabkan oleh sektor industri yang masih menunggu paket kebijakan pro bisnis. Selain itu, adanya pelemahan permintaan pasar ekspor dan pasar domestik, serta penurunan daya beli masyarakat.

Sementara itu, Ekonomi Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati mengatakan bahwa terkontraksinya PMI Manufaktur berturut-turut mencerminkan makroekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

ADVERTISEMENT

“Sinyal pelemahan datang dari dua sisi, yaitu investasi dan lapangan pekerjaan. Artinya, sebagian perusahaan kita bangkrut. Ini sinyal yang berbahaya bagi sisi manufaktur dengan penyerapan lapangan kerja yang tinggi. Ini bisa menjadi ruang bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali, ada apa dengan sektor yang padat karya dan sektor yang manufaktur?” Ucap Nina saat dihubungi, Rabu (2/7/2025).

Lebih lanjut, Nina menyebutkan bahwa gelombang PHK yang terjadi baru-baru ini juga disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang mengupayakan otomatisasi teknologi. Inovasi ini yang menyebabkan produktivitas naik namun memangkas lapangan kerja.

PMI Manufaktur Kontraksi Lagi, Imbas Investasi Lesu dan Gelombang PHK
Ilustrasi: Investor Daily

Menurut Nina, saat ini sektor manufaktur tengah terseok-seok. Namun ia melihat ada peluang di sektor pertanian yang justru bisa menjadi “senjata” terbaru Indonesia.

“Yang tumbuh dengan baik pada triwulan pertama justru adalah sektor pertanian. Ada peluang untuk shifting lapangan kerja kita. Dari pertanian lalu ke agribisnis, lalu ke manufaktur berbasis agribisnis. Ada sektor kelautan, kehutanan, perkebunan, sektor-sektor yang juga menopang ketahanan pangan. Nah ini yang bisa dilakukan Indonesia untuk swasembada pangan yang bisa mendorong ke sektor manufaktur,” pungkas Nina.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 9 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 13 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 51 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 55 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia