China Resmi Intervensi Harga BBM Domestik
BEIJING, investor.id – Pemerintah China melalui Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (National Development and Reform Commission/NDRC) resmi memberlakukan langkah pengendalian harga eceran bensin dan solar mulai Senin (23/3/2026). Kebijakan intervensi ini diambil menyusul lonjakan tajam harga minyak internasional yang dinilai sudah tidak normal dan berisiko mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Berdasarkan mekanisme pasar yang berlaku sejak 2013, harga bensin dan solar di China seharusnya naik masing-masing sebesar 2.205 yuan (US$ 319,4) dan 2.120 yuan per ton. Namun, melalui intervensi NDRC, kenaikan dipangkas hanya menjadi 1.160 yuan dan 1.115 yuan per ton. Langkah ini merupakan kali pertama Pemerintah China melakukan pengendalian harga secara langsung dalam 13 tahun terakhir.
NDRC dalam pernyataan resminya seperti dilansir dari Xinhua pada Senin (23/3/2026), menyatakan bahwa langkah-langkah ini diadopsi untuk mengurangi dampak kenaikan harga minyak internasional yang tidak normal, mengurangi beban pengguna hilir, serta memastikan operasi ekonomi dan kesejahteraan sosial yang stabil.
Guna menjaga ketertiban, NDRC menegaskan akan memperketat pengawasan pasar dan menindak tegas setiap pelanggaran penetapan harga nasional oleh distributor maupun penyulingan.
Sementara mengutip Reuters, kabar kenaikan harga ini memicu kepanikan warga. Di berbagai penjuru China, masyarakat terpantau mengantre panjang di SPBU sejak Minggu malam setelah perusahaan energi Sinopec memberikan peringatan dini kepada pelanggan.
Unggahan di platform media sosial seperti Rednote dan Weibo menunjukkan deretan kendaraan yang memadati area pengisian bahan bakar guna menghindari tarif baru. Meski intervensi dilakukan, kebijakan ini tetap menambah beban biaya sekitar US$ 6,5 bagi pemilik mobil pribadi untuk setiap pengisian tangki 50 liter bensin oktan 92.
Baca Juga:
Goldman Sachs Kerek Proyeksi Harga Minyak ke US$ 85 per Barel, Apa Artinya Bagi Indonesia?Para analis menilai intervensi ini merupakan respons yang tepat waktu, namun tetap membawa risiko bagi sektor industri. Kepala Ekonom China di Standard Chartered Bank, Shuang Ding, memperingatkan bahwa inflasi dorongan biaya (cost-push inflation) dapat menekan keuntungan perusahaan.
Di sisi lain, perusahaan konsultan GL Consulting mencatat bahwa intervensi harga jual akan membatasi margin keuntungan kilang. Saat ini, keuntungan kilang independen di Provinsi Shandong bahkan telah jatuh ke level terendah dalam tiga tahun terakhir akibat tingginya biaya minyak mentah yang tidak sebanding dengan daya beli konsumen.
Indonesia Menyusul?
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






