Langkah Pemerintah Tahan Harga BBM Dinilai Tepat
JAKARTA, investor.id – Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai sebagai langkah bijaksana guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun, kebijakan ini diperkirakan hanya mampu bertahan dalam jangka pendek jika harga minyak dunia terus bertengger di atas US$ 100 per barel.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa konflik Iran-Israel serta penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mengunci harga minyak di level tinggi. Selama jalur logistik vital tersebut belum dibuka, tekanan terhadap harga energi global diprediksi tidak akan mereda.
“Selama Selat Hormuz masih ditutup, maka harga minyak dunia masih akan berkisar di US$100 per barel,” ujar Lukman saat dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (2/4/2026) siang, harga minyak Brent sebesar US$ 107,6 per barel dan WTI sebesar US$ 106,0 per barel, masing-masing melonjak antara 5-6% dalam sehari. Lonjakan ini seiring dengan meredupnya harapan pasar akan penyelesaian konflik di Iran dalam waktu dekat.
Lukman mewanti-wanti bahwa dengan asumsi harga minyak mentah saat ini, pemerintah kemungkinan hanya memiliki napas sekitar dua hingga tiga bulan untuk menahan harga BBM di tingkat domestik. Pasalnya, harga minyak mentah jenis Brent telah melonjak sekitar 50% sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Kenaikan tersebut secara teknis dapat memicu lonjakan harga jual BBM hingga 25%. Sebagai ilustrasi, jika harga Pertalite saat ini Rp 10.000 per liter, harga keekonomian sebenarnya bisa mencapai Rp 12.500 per liter. Selisih sebesar Rp 2.500 per liter inilah yang menjadi beban yang harus ditanggung APBN.
Baca Juga:
Ada Usul agar Harga BBM Naik BertahapGuna menjaga defisit fiskal tetap di bawah batas aman 3%, Lukman menyarankan pemerintah menyiapkan langkah mitigasi strategis. Beberapa opsi yang diusulkan antara lain percepatan implementasi program solar B50 serta realokasi anggaran dari program non-mendesak, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk memperkuat bantalan energi.
Meski tekanan eksternal menguat, Lukman mengapresiasi kebijakan pemerintah yang memilih menahan harga saat ini untuk meredam kekhawatiran masyarakat.
“Langkah pemerintah yang belum menaikkan harga BBM saat ini cukup bijaksana untuk menjaga stabilitas ekonomi. Apabila situasi memburuk, pemerintah tentu akan kembali meninjau kebijakan ini,” tandas dia.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






