Minggu, 21 Juni 2026

Kenaikan Harga Plastik Bepotensi Gerus Margin Sektor Industri

Penulis : Heru Febrianto
7 Apr 2026 | 21:39 WIB
BAGIKAN
Warga memilih gelas plastik di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Warga memilih gelas plastik di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

JAKARTA, investor.id – Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap rantai pasok global bahan baku. Kondisi ini memperlihatkan bahwa plastik tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga telah berkembang menjadi tantangan ekonomi dan operasional bagi berbagai sektor industri.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) buka suara soal harga plastik naik tinggi. Zulhas menyampaikan bahwa kenaikan harga plastik dipicu oleh gangguan pada pasokan bahan baku, yang berdampak langsung pada ketersediaan dan distribusi di pasar. Kondisi ini mulai dirasakan oleh pelaku usaha karena kenaikan biaya bahan baku berpotensi menggerus margin dan meningkatkan tekanan biaya produksi.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai plastik merupakan komoditas antara yang menopang banyak sektor industri. “Ketika pasokannya terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat produsen, tetapi juga berpotensi menjalar hingga ke konsumen melalui kenaikan harga produk dan tekanan terhadap daya beli,” kata Yusuf di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

ADVERTISEMENT

Bagi konsumen, kondisi ini berpotensi berdampak langsung pada harga dan ketersediaan produk sehari-hari yang menggunakan kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi di tingkat industri pada umumnya akan diteruskan ke harga jual, sehingga mendorong masyarakat untuk mulai lebih selektif dalam memilih produk, termasuk mempertimbangkan alternatif konsumsi yang lebih efisien dan tidak bergantung pada plastik baru.

Sejumlah pelaku usaha, termasuk di sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), juga mulai merasakan tekanan tersebut, karena kenaikan harga bahan baku kemasan berpotensi mengurangi margin usaha jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual.

Situasi ini mendorong pelaku usaha untuk mulai melihat ketergantungan terhadap plastik baru sebagai faktor risiko yang perlu dikelola secara lebih strategis, tidak hanya dari sisi biaya, tetapi juga keberlanjutan pasokan.

Seiring dengan itu, pendekatan dalam penggunaan kemasan pun mulai bergeser. Model berbasis produksi baru (single-use) dinilai semakin rentan terhadap dinamika global, sehingga mendorong kebutuhan akan sistem yang lebih efisien dan adaptif, seperti penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill).

Perubahan pendekatan ini mulai terlihat di berbagai sektor, termasuk industri air minum. Air Minum Biru, penyedia layanan air minum isi ulang, merupakan salah satu pelaku usaha yang telah lebih dahulu mengembangkan sistem distribusi berbasis isi ulang dengan galon milik pelanggan, sebagai bagian dari model operasionalnya, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada produksi plastik baru.

“Dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan sistem menjadi semakin penting. Kami sejak awal membangun model bisnis yang meminimalkan ketergantungan pada plastik baru, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok,” ujar Yantje Wongso, Direktur PT Biru Semesta Abadi (Air Minum Biru).

Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya memberikan dampak dari sisi lingkungan, tetapi juga menciptakan sistem yang lebih stabil dalam menghadapi fluktuasi ketersediaan bahan baku plastik.

“Ketika pasokan dan harga menjadi tidak pasti, sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya akan menjadi keunggulan. Reuse dan refill bukan hanya alternatif, tapi bagian dari solusi jangka panjang,” tambahnya.

Selain itu, dalam menghadapi tekanan terhadap ketersediaan plastik, pendekatan yang lebih sirkular juga semakin relevan. Air Minum Biru menyatakan bahwa pengembangan sistem yang mengoptimalkan penggunaan ulang (reuse) komponen kemasan menjadi bagian dari arah inovasi ke depan, dengan tetap mengedepankan standar kebersihan dan keamanan.

Dengan tekanan global yang masih berlangsung, pelaku industri diperkirakan akan semakin terdorong untuk membangun sistem yang lebih resilien, tidak hanya untuk menjaga efisiensi biaya, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan operasional di tengah ketidakpastian. Pendekatan seperti reuse dan refill pun menjadi semakin relevan sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik baru sekaligus menciptakan sistem yang lebih adaptif terhadap dinamika rantai pasok global.

Editor: Heru Febrianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 1 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 32 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia