Kementan Ungkap Strategi Menuju Swasembada Gula
JAKARTA, investor.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan ambis untuk mengembalikan kejayaan gula Indonesia seperti masa kolonial Belanda. Komitmen itu dilakukan dengan diimplementasikan lewat cara bongkar ratoon atau peremajaan sampai membuka lahan baru.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menjelaskan, strategi bongkar ratoon dilakukan dengan mengganti tanaman tebu lama dengan varietas unggul yang memiliki produktivitas dan rendemen lebih tinggi.
“Bongkar ratoon itu penting. Jadi kita cari varietas yang standarnya bagus, dengan pengeluarannya yang bagus, sehingga rendemennya itu bagus. Dulu zaman Belanda rendemennya itu bisa tiga kali lipat dibandingkan yang sekarang. Dulu tinggi sekali, kenapa sekarang turun naik, itu kita memutuskan perhatian di situ,” kata Sudaryono usai rapat dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, pemilihan varietas unggul menjadi faktor krusial dalam sektor pertanian karena berkontribusi sekitar 20 hingga 30 % terhadap peningkatan produksi. Oleh karena itu, pemerintah menjadikan penggunaan varietas unggul sebagai prioritas utama.
Ia optimistis, jika rendemen tebu dapat ditingkatkan seperti pada masa lalu, Indonesia tidak hanya mampu mencapai swasembada gula, tetapi juga berpotensi menurunkan harga di dalam negeri.
“Kalau Indonesia itu bisa meningkatkan rendemennya tinggi, kembali ke zaman Belanda saja misalnya, itu bukan hanya kita ini swasembada gula, bahkan harga gulanya bisa kita turunkan,” ujarnya.
Selain peremajaan, Kementan juga akan melakukan pembukaan lahan baru yang sesuai untuk budidaya tebu tanpa mengganggu keseimbangan ekologi. Sudaryono menekankan pentingnya pemilihan lahan yang tepat, mengingat tanaman tebu kerap bersaing dengan komoditas lain seperti padi dan jagung.
“Mau tidak mau kita cari lahan baru yang cocok untuk tebu, tanpa harus mengganggu ekologi. Jadi kalau tebu itu relatif tanaman yang ada di bawah, dia rebutan, maksudnya tanaman untuk tebu itu kadang bisa cocok ditanami padi, ditanami jagung,” jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah juga memastikan harga pembelian tebu dari petani tetap terjaga agar mendorong semangat produksi. Dengan adanya kepastian pasar, diharapkan produktivitas petani meningkat dan ketergantungan impor gula dapat ditekan.
“Sehingga orang bersemangat karena di situ ada bisnis. Jadi sebetulnya kalau kita bicara gula dan komoditas lain yang masih impor, itu peluang. Kita bisa substitusi impor, yang tadinya diproduksi negara lain, akhirnya kita yang produksi,” ujar Sudaryono.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





