Minggu, 21 Juni 2026

Bapanas: Stok Kedelai RI Aman Sampai Akhir Bulan

Penulis : Erfan Ma’ruf
17 Apr 2026 | 15:10 WIB
BAGIKAN
Perajin tempe menunjukkan kedelai impor yang dibelinya di gudang Primer Koperasi Tempe dan Tahu (Primkopti) Sanan, Malang, Jawa Timur, Rabu (9/4/2025). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Perajin tempe menunjukkan kedelai impor yang dibelinya di gudang Primer Koperasi Tempe dan Tahu (Primkopti) Sanan, Malang, Jawa Timur, Rabu (9/4/2025). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah memberi kepastian ketersediaan kedelai masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional, terutama bagi kebutuhan produksi perajin tahu dan tempe. Pasokan kedelai, baik dari impor maupun produksi dalam negeri, diproyeksikan sampai akhir April mendatang masih berada di level yang aman.

Sekretaris Utama (Sestama) Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy menuturkan ketercukupan ketersediaan kedelai tersebut senantiasa dipantau dan dijaga pemerintah. Ditambah lagi, lebih dari 90% kebutuhan kedelai nasional berasal dari kebutuhan perajin tahu dan tempe.

"Kaitan dengan ketersediaan stok bahwa saat ini sampai dengan akhir April, stok kedelai kita masih 322 ribu ton. Artinya ini masih cukup. Kemudian kami juga hampir setiap hari berkomunikasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO). Harga kedelai di perajin masih normal," kata Sarwo dalam keterangannya di Jakarta, pada Jumat (17/4/2026).

ADVERTISEMENT

Adapun ketersediaan kedelai secara nasional yang diproyeksikan berada di 322,5 ribu ton sampai akhir April tersebut masih memadai untuk menopang kebutuhan kedelai bulanan yang berada di kisaran antara 220 ribu sampai 230 ribu ton. Kalkulasi ini berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Kedelai Tahun 2025 yang selalu mengalami pembaruan data setiap bulannya.

Terkait harga kedelai, Sestama Sarwo meminta para importir kedelai untuk menaati plafon harga yang telah ditentukan pemerintah. Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai di tingkat importir maksimal di Rp 11.500 per kilogram (kg) dan di tingkat konsumen atau perajin tahu dan tempe tidak boleh melebihi Rp 12.000 per kg.

"Misalnya harga kedelai lebih Rp 12.000, kita sisir ke hulu, apabila kedapatan ada importir menjual lebih Rp 11.500 maka otomatis importir tersebut untuk impor berikutnya akan diberhentikan dan izinnya akan dicabut. Jadi semua pelaku usaha harus tunduk kepada pemerintah dengan mengacu kepada harga acuan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah," tegas Sarwo.

Dalam pantauan Bapanas, rerata harga kedelai asal impor secara nasional di tingkat perajin tahu dan tempe masih berada dibawah ambang batas HAP. Rerata harga kedelai impor dalam seminggu terakhir berada di rentang Rp 11.266 sampai Rp 11.320 per kg atau 5,6 sampai 6,1% dibawah HAP tingkat perajin tahu dan tempe yang Rp 12.000 per kg.

Lebih lanjut, pemerintah terus berupaya menggenjot peningkatan produksi kedelai asal dalam negeri. Menurut Sarwo, Kementerian Pertanian telah menjalankan berbagai program untuk pengembangan produksi kedelai. Tentunya jika produksi dalam negeri mulai berkembang, impor kedelai pun dapat dikurangi pemerintah secara otomatis.

"Tentu Bapak Menteri Pertanian dalam tahun ini ada program pengembangan kedelai. Mudah-mudahan nanti secara bertahap kedelai dalam negeri, produksinya meningkat, otomatis akan menurunkan impor," ujar Sarwo.

Di samping itu, pemerintah bersama Perum Bulog juga tengah mempersiapkan pendanaan untuk penguatan Cadangan Kedelai Pemerintah (CKP). Sesuai Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 391 Tahun 2025 ditetapkan CKP minimal pengadaan sampai angka 70 ribu ton untuk tahun 2026 ini.

Pengusaha Dihimbau Jaga Stabilitas Harga

Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian telah memberikan wanti-wanti agar pelaku usaha sektor kedelai, utamanya importir, untuk saling menjaga harga. Sanksinya jelas, izin impor dapat dicabut pemerintah seketika.

"Janganlah naik, naiklah sedikit tapi jangan naik banyak banget. Aku minta kedelai, jangan naik banyak. Kalau kedelai, kalau mau naikkan semena-mena, yang impor kedelai, aku pastikan aku cabut izinnya," tegas Kepala Bapanas Amran.

"Kami sudah minta kepada importir jangan naikkan harga semena-mena. Sudah ada kesepakatan. Kalau ada yang menaikkan harga secara tidak wajar, menzalimi masyarakat yang membutuhkan kedelai, izinnya akan saya cabut dan tidak saya berikan untuk tahun depan," pungkasnya. 

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 5 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 6 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 6 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 6 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 6 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 7 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia