Indonesia Kalahkan China dan AS soal Paling Tahan Krisis Energi
JAKARTA, investor.id – Indonesia dinobatkan sebagai negara peringkat kedua yang paling tahan terhadap guncangan energi global berdasarkan laporan terbaru J.P. Morgan Asset Management bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026. Capaian ini menempatkan resiliensi energi Indonesia di atas negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pengakuan internasional tersebut merupakan validasi atas konsistensi kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara sumber daya domestik dan transisi energi.
“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi.,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Airlangga menambahkan, di tengah volatilitas harga energi global, ketahanan energi Indonesia ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026 dan membantu melindungi daya beli masyarakat serta kelangsungan aktivitas dunia usaha.
Laporan JPMorgan yang menganalisis 52 negara itu menggunakan indikator Total Insulation Factor (faktor isolasi total). Indonesia mencatatkan skor 77%, yang cuma terpaut tipis di bawah Afrika Selatan (79%), namun mengungguli China (76%) dan Amerika Serikat (70%).
Ketangguhan energi nasional ditopang oleh produksi domestik yang kuat, di mana batu bara menyumbang 48% dari konsumsi energi akhir, disusul gas bumi sebesar 22%, dan energi terbarukan sebesar 7%. JPMorgan secara eksplisit mengelompokkan Indonesia sebagai negara yang mendapat manfaat besar dari kedaulatan sumber daya alam selama krisis energi berlangsung.
Selain itu, Indonesia tercatat memiliki eksposur rendah terhadap kerawanan jalur distribusi migas global. Ketergantungan Indonesia pada Selat Hormuz hanya sebesar 1%, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan (33%) atau Singapura (26%).
Meski berada di posisi unggul, Airlangga memastikan Indonesia tidak lengah dan pemerintah terus memacu kebijakan strategis. Sejumlah kebijakan yang dimaksud antara lain:
- Optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca migas dan memperkuat penerimaan PNBP,
- percepatan transisi energi melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) sesuai RUKN dan RUPTL,
- perluasan adopsi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) sebagai strategi struktural menurunkan ketergantungan pada minyak, serta
- diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi untuk memperkuat ketahanan terhadap risiko geopolitik.
“Ke depan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan terus mengoordinasikan kebijakan energi dan fiskal secara terintegrasi guna menjaga momentum ketahanan tersebut, sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha,” tandas Airlangga
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






