PMI Manufaktur Kontraksi, Kemenkeu: Akibat Tekanan Harga Bahan Baku
JAKARTA, investor.id – Sektor manufaktur Indonesia mengalami penyesuaian pada awal triwulan II-2026 akibat tekanan global. Purchasing Managers' Index (PMI) April 2026 tercatat terkontraksi ke level 49,1 dari sebelumnya 50,1 pada Maret. Meski aktivitas produksi melambat, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap kuat didorong oleh konsumsi masyarakat yang solid.
Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan, Ditjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Endang Larasati, menjelaskan bahwa penurunan aktivitas manufaktur dipicu faktor musiman dan diperparah dengan eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Konflik tersebut menghambat rantai pasok dan memicu lonjakan harga bahan baku ke level tertinggi.
“Di tengah tantangan tersebut, permintaan dalam negeri masih menunjukkan peningkatan dan menjadi penopang tekanan pada sektor manufaktur. Ke depan, para produsen optimis bahwa volume produksi akan meningkat dalam 12 bulan mendatang,” ujar Endang dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Resiliensi ekonomi domestik tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 yang tumbuh 2,4% secara tahunan (year on year/yoy), terutama pada kelompok makanan, minuman, dan rekreasi. Selain itu, mobilitas logistik selama libur Idulfitri mendorong pertumbuhan konsumsi BBM ritel sebesar 11,9% dan sektor industri 17,9%. Penjualan listrik pun mencatatkan pertumbuhan 3,7%, mengindikasikan aktivitas bisnis yang tetap berdenyut.
Kepercayaan masyarakat juga berada di zona optimis dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai level 122,9. Hal ini didukung oleh keberhasilan pemerintah menjaga inflasi April 2026 di level 2,42% (yoy). Penurunan harga pangan seperti daging ayam dan cabai, serta kebijakan tidak menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir tahun, menjadi kunci menjaga daya beli saat ini dan periode mendatang.
Meski manufaktur tertekan, sektor eksternal tetap menyumbang sentimen positif melalui surplus neraca perdagangan Maret 2026 sebesar US$ 3,32 miliar. Ini memperpanjang rekor surplus Indonesia selama 71 bulan berturut-turut. Ekspor komoditas utama seperti CPO, besi, dan baja tetap menjadi andalan dengan total nilai US$ 22,53 miliar.
Baca Juga:
Ujian Berat Daya Tahan ManufakturEndang menegaskan pemerintah terus memperkuat kewaspadaan dan menyiapkan respons kebijakan adaptif. Upaya percepatan investasi melalui Kanal Debottlenecking Satgas P3-MPPE terus dioptimalkan guna memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
“Upaya menjaga kesinambungan pertumbuhan dilakukan dengan menguatkan sektor riil, menjaga daya beli masyarakat, dan memastikan fiskal dikelola dengan disiplin,” pungkasnya.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





