Status Dolar AS Sebagai Safe Haven Mulai Tergerus
JAKARTA, investor.id - Perusahaan keuangan, ING mengungkapkan bahwa dolar AS telah kehilangan sebagian nilai sebagai safe haven sejak tahun 2024.
Dikutip dari US News, Selasa (24/2/2026) ING memaparkan dalam sebuah catatan bahwa indeks dolar AS telah kehilangan hampir 10% nilainya tahun lalu, menandai kinerja tahunan terburuknya sejak 2017.
Kebijakan perdagangan AS yang tidak menentu, ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu, dan serangan terhadap Federal Reserve telah membebani mata uang tersebut, menurut ING.
Meski demikian, ING belum melihat adanya penurunan luas dalam permintaan global terhadap mata uang AS tersebut. Tercatat, innvestor swasta yang memegang lebih dari 80% kepemilikan asing atas aset dolar AS, tetap berinvestasi pada mata uang tersebut.
"Pelemahan dolar pada tahap ini, tampaknya lebih bersifat siklikal daripada struktural," kata ING.
Baca Juga:
Harga Emas Tertahan Penguatan Dolar ASSelain itu, ING juga menyebut belum ada tanda-tanda percepatan de-dolarisasi, jika mengamati penggunaan dolar dalam aset global, kewajiban, perputaran pasar, dan transaksi.
Namun, ING mengingatkan, jika bank sentral AS terlihat memangkas suku bunga secara tidak tepat, penarikan dana besar-besaran terhadap dolar dapat terjadi.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, indeks dolar terlihat naik 0,08% ke level 97,78. Sementara itu, nilai tukar rupiah hari ini terpukul 33 poin (0,2%) ke level Rp 16.835 per dolar AS.
Sedangkan pada perdagangan Senin (23/2/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 86 poin di level Rp 16.802.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen
Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang
Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data
Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah PutihKetika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel
Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh
Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.Tag Terpopuler
Terpopuler






