Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik
TANGERANG, investor.id — Ketidakpastian pasokan dan fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) akibat dinamika geopolitik global mulai berdampak pada sektor logistik di Indonesia. Kondisi tersebut mendorong sejumlah pelaku industri mencari solusi distribusi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Salah satu langkah dilakukan oleh PT Primarajuli Sukses (PRS), anak usaha PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI), yang mulai mengadopsi kendaraan listrik untuk mendukung operasional distribusinya. Implementasi ini difasilitasi oleh PT Kalista Nusa Armada (KALISTA) sebagai penyedia ekosistem kendaraan listrik komersial.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Ever Shine Group dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung target nasional menuju net zero emission pada 2060. Saat ini, sekitar 70% kebutuhan energi perusahaan direncanakan berasal dari sumber energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1,34 MWp dan pembangkit berbasis gas sebesar 1 MW. Selain itu, PLTS tahap kedua dengan kapasitas 2,1 MWp dijadwalkan mulai beroperasi pada Juli 2026.
Dalam implementasinya, PRS menggunakan skema fleet-as-a-service melalui model operating lease dari KALISTA. Skema ini memungkinkan perusahaan beralih ke kendaraan listrik tanpa investasi awal, karena kepemilikan unit dan tanggung jawab operasional berada di pihak penyedia. Dengan demikian, perusahaan dapat fokus pada kegiatan distribusi.
Direktur Ever Shine Group, Michael Sung, menyatakan bahwa penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM. Ia mengatakan, sebanyak enam unit truk listrik digunakan untuk distribusi produk di wilayah Jakarta dan Bandung, melayani sejumlah pelanggan seperti sektor ritel dan platform digital.
“Sebelumnya, kami telah melakukan uji coba dua tipe truk listrik bersama KALISTA. Hasil uji coba menunjukkan potensi penghematan biaya bahan bakar hingga 40%. Selain itu, perusahaan juga mengoperasikan satu unit minibus listrik untuk kebutuhan transportasi karyawan yang dapat dimanfaatkan untuk distribusi barang saat tidak digunakan.
KALISTA pun turut melakukan survei operasional untuk menentukan jenis kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan PRS, serta merancang strategi pengisian daya, termasuk pembangunan infrastruktur pengisian dan pemanfaatan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di sepanjang rute Jakarta–Bandung. Seluruh armada juga terintegrasi dengan sistem manajemen armada berbasis digital untuk pemantauan secara real-time.
Direktur Pengembangan Bisnis KALISTA, Yoga Adiwinarto, menyatakan bahwa penggunaan kendaraan listrik tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga berpotensi menekan emisi dan biaya operasional secara keseluruhan.
“Hasil uji coba dalam kondisi operasional nyata menunjukkan adanya efisiensi biaya operasional hingga 27% per bulan. Dengan hasil yang positif ini, kami juga turut mengajak perusahaan logistik lainya untuk memulai transisi ke EV bersama KALISTA melalui dukungan ekosistem terintegrasi dari perencanaan hingga operasional,” katanya.
Adapun armada yang digunakan terdiri dari empat unit truk listrik Foton E-Miller dengan kapasitas baterai 81,14 kWh dan daya angkut hingga 4 ton, serta dua unit Foton E-Aumark dengan kapasitas baterai 63,75 kWh dan daya angkut hingga 2,5 ton. Dalam satu kali pengisian daya, kendaraan dapat menempuh jarak hingga 200 kilometer.
Baca Juga:
Prospek Pengadaan Listrik dan Gas Indonesia 2026: Dekade yang Hilang, Tahun yang MenentukanPengisian daya dilakukan saat waktu istirahat operasional, dengan durasi sekitar 40 menit untuk pengisian dari 20% hingga 80%. Secara keseluruhan, hasil uji coba menunjukkan penghematan biaya energi hingga 40% per bulan serta penurunan emisi sekitar 30%.
Penggunaan kendaraan listrik dalam distribusi logistik tekstil dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di sektor industri lain dengan kebutuhan distribusi serupa. Meskipun masih dalam tahap awal, pendekatan ini menunjukkan peluang efisiensi dan pengurangan emisi dalam jangka panjang.
Seiring meningkatnya tekanan terhadap biaya energi dan tuntutan keberlanjutan, pendekatan seperti ini diperkirakan makin banyak diadopsi oleh pelaku industri logistik di Indonesia.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

