Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pasar Rebound

Investor Daily, Rabu, 4 Maret 2020 | 12:05 WIB

Setelah terpuruk cukup dalam selama beberapa pekan terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berhasil kembali menguat (rebound). Dipicu ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank-bank sentral global, IHSG ditutup menguat 157,38 poin atau 2,94% ke posisi 5.518,63.

Penguatan tersebut mengurangi keterpurukan IHSG menjadi 12,40% secarayear to date (ytd). Setelah dibuka menguat, IHSG nyaman berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan kemarin. Seiring kenaikan indeks, nilai kapitalisasi BEI meningkat Rp 182 triliun menjadi Rp 6.380 triliun dibandingkan hari sebelumnya.

Seluruh sektor saham meningkat. Sektor infrastruktur memimpin kenaikan sebesar 4,23%, diikuti sektor konsumer dan sektor manufaktur masing-masing 3,9% dan 3,35%. Namun penguatan IHSG masih diiringi aksi jual saham oleh investor asing, sehingga terjadi net sell asing sebesar Rp 241,30 miliar.

Alhasil, aksi jual bersih investor asing sudah mencapai Rp 5,26 triliun secara year to date (ytd). Kalangan ekonom memprediksi bank sentral AS, The Fed, bakal memangkas suku bunga acuan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), 17-18 Maret mendatang. Bahkan, The Fed kemungkinan akan bertindak sebelum jadwal pertemuan resminya itu dan akan sejalan dengan langkah bank-bank sentral di negara lain.

Suku bunga acuan Fed Fund rate (FFR) saat ini berada di kisaran 1,5-1,75% setelah dipertahankan pada sidang FOMC terakhir di bulan Januari lalu. Sinyal pemangkasan suku bunga terendus oleh pasar setelah Kepala The Fed Jerome Powell pada akhir pekan lalu menyatakan sedang memantau dengan cermat perkembangan pasar dan akan menggunakan kebijakan untuk bertindak sesuai kebutuhan untuk mendukung ekonomi.

Powell mengatakan hal itu setelah pasar saham AS merosot dalam tujuh hari berturut-turut di tengah kekhawatiran meluasnya penyebaran Virus Korona. Hingga kemarin, wabah Virus Korona telah menyebar ke 76 negara, dengan jumlah kasus mencapai 91.311, jumlah yang meninggal sebanyak 3.135 dan yang sembuh mencapai 48.456. Keyakinan investor bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya sebagai mitigasi dampak negatif penyebaran Virus Korona atau Covid-19 memberi sentimen positif ke pasar. Itu sebabnya, indeks Dow Jones ditutup menguat 5,09%, S&P meningkat 4,6% dan Nasdaq naik 4,5% pada perdagangan Senin (2/3), setelah mencatatkan kinerja mingguan terburuknya sejak krisis finansial 2008.

Kenaikan bursa saham AS pada Senin waktu setempat memberi angina segar ke pasar saham Asia, termasuk Indonesia, yang mayoritas ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Sedangkan indeks Nikkei225 Jepang ditutup melemah 1,22% dan Indeks Hang Seng (Hong Kong) turun tipis 0,03%.

Tidak hanya The Fed, bank sentral lainnya juga diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya sebagai respons atas risiko pelemahan ekonomi global. Wabah Virus Korona dikhawatirkan melumpuhkan aktivitas perdagangan di banyak negara, terutama Tiongkok yang menjadi episentrum wabah Covid-19. Bank Kanada diprediksi memotong 100 basis poin (bps) dalam waktu dekat. Pelonggaran moneter sekitar 50 bps kemungkinan juga dilakukan bank sentral Inggris, Australia, Selandia Baru, Norwegia, India, dan Korea Selatan. Selain itu, Bank Sentral Eropa dan Bank Nasional Swiss juga diprediksi bakal memangkas bunga acuannya sekitar 10 bps. Langkah antisipasi terhadap dampak wabah Virus Korona juga dilakukan otoritas moneter Indonesia. Menyusul terkonfirmasinya dua pasien Korona pertama di Tanah Air, Senin (2/3), Bank Indonesia (BI) mengumumkan lima kebijakan untuk melawan dampak Virus Korona.

Di hari yang sama, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut seluruh efek yang dapat ditransaksikan secara short selling dari daftar efek short selling mulai Senin (2/3) sampai batas waktu yang akan ditetapkan kemudian. Langkah BEI ini untuk mengurangi volatilitas pasar dan mencegah pelemahan indeks lebih lanjut Kelima kebijakan BI itu yakni, pertama, meningkatkan intensitas triple intervention agar nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamentalnya dan mengikuti mekanisme pasar. Kedua, BI menurunkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) valuta asing bank umum konvensional, dari semula 8% menjadi 4%, berlaku mulai 16 Maret 2020.

Penurunan rasio GWM Valas tersebut akan meningkatkan likuiditas valas di perbankan sekitar US$ 3,2 miliar sekaligus mengurangi tekanan di pasar valas. Kebijakan ketiga yaitu menurunkan GWM rupiah sebesar 50 bps yang ditujukan kepada bank-bank yang melakukan kegiatan pembiayaan ekspor-impor, yang dalam pelaksanaannya akan berkoordinasi dengan pemerintah.

Keempat, memperluas jenis underlying transaksi bagi investor asing sehingga dapat memberikan alternatif dalam rangka lindung nilai atas kepemilikan Rupiah. Kelima, investor global dapat menggunakan bank kustodi global dan domestic dalam melakukan kegiatan investasi di Indonesia.

Kita berharap kebijakan yang akan dan telah diambil bank-bank sentral dapat mendukung ekonomi, di tengah ancaman inflasi akibat terendatnya pasokan barang dan melemahnya kegiatan ekspor-impor. Pemangkasan bunga acuan yang kemudian ditransmisi ke bunga kredit yang lebih murah diharapkan dapat membantu menggairahkan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan publik begitu Virus Korona bisa dikendalikan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN