Pinjol Cuan Lima Kali Lipat, Menyalip Bank dan Leasing
JAKARTA, investor.id - Penyelenggara fintech p2p lending atau yang dikenal sebagai platform pinjaman online (pinjol) mencetak keuntungan yang signifikan sepanjang tahun ini. Hingga Juli 2023, laba bersih telah mencapai Rp 424,14 miliar.
Mengacu statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perolehan pada periode sama tahun sebelumnya yakni pada Juli 2022, platform pinjol masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 145,65 miliar. Artinya, pencapaian hingga Juli 2023 tersebut mencatat pertumbuhan sebesar 391,21% atau melesat hampir lima kali lipat.
Perolehan tersebut dicatatkan oleh sebanyak 102 entitas pinjol legal yang terdaftar dan berizin OJK. Perolehan laba terbilang cukup signifikan mengingat fintech p2p lending hanya memilikki total aset mencapai Rp 7,06 triliun, dengan liabilitas Rp 3,66 dan ekuitas sebesar Rp 3,40 triliun.
Dengan realisasi laba bersih itu, tingkat pengembalian atas aset atau return on asset (ROA) dari fintech p2p lending mencapai 6,01% pada Juli 2023. Berbalik positif dari periode sama tahun lalu di level -5,12%.
Pertumbuhan laba fintech p2p lending pun lebih cepat daripada bank umum maupun perusahaan pembiayaan (leasing/multifiance). Bank umum mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp 298,57 triliun yang naik 24,43% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juni 2023. Sementara laba multifinance naik 93% (yoy) menjadi Rp 12,62 triliun pada Juli 2023.
Baca Juga:
Target Fintech Lending Terancam MelesetDitegaskan dari indikator profitabilitas, dimana ROA dari fintech p2p lending sudah meyalip bank umum dan multifinance pada Juli 2023. Jika ROA industri multifinance sebesar 5,81% pada Juli 2023, ROA bank umum bahkan hanya tercatat 2,73% pada Juni 2023.
Ditelisik lebih lanjut, kecepatan pertumbuhan laba fintech p2p lending tersebut dipengaruhi sejumlah hal. Salah satunya yaitu bisnis penyaluran pinjaman masih mampu tumbuh baik mesti bergerak melambat dalam beberapa waktu belakangan.
Outstanding pinjaman platform pinjol di Juli 2023 meningkat menjadi 22,41% (yoy) menjadi Rp 55,98 triliun. Di saat yang sama, industri perbankan mencatat kredit naik 8,54%, sementara pembiayaan multifinance naik 16,22%.
Pengaruh selanjutnya, kapasitas bisnis yang meningkat itu kemudian mendongkrak pendapatan operasional fintech p2p lending tumbuh 45,13% (yoy) menjadi Rp 6,70 triliun. Total pendapatan ini disokong dari tiga kantong yang berasal dari pengembalian atas pinjaman, pendapatan atas pemberian pinjaman, dan pendapatan atas denda. (lihat grafik)
Sedangkan dari sisi biaya-biaya (expenses), fintech p2p lending mencatat total beban operasional mencapai Rp 5,95 triliun atau tumbuh 26,57% (yoy) pada Juli 2023. Utamanya disokong empat pos biaya yaitu beban pemasaran dan periklanan Rp 2,07 triliun, beban ketenagakerjaan Rp 1,36 triliun, beban umum dan administrasi sebesar Rp 1,22 triliun, serta beban pengembangan dan pemeliharaan IT sebesar Rp 669,78 miliar.
Dari sebaran pendapatan dan biaya-biaya tersebut fintech p2p lending mencatat laba operasional sebesar Rp 754,97 miliar pada Juli 2023, berbalik dari tren rugi operasional pada periode sama tahun lalu sebesar Rp 80,56 miliar. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bergerak surut ke arah lebih efisien dari 101,74% menjadi 88,73%.
Tapi Kulitas Lebih Buruk
Meski lebih mentereng dari sisi perkembangan profitabilitas dan kecepatan memacu kapasitas bisnis, sayangnya kualitas pinjaman fintech p2p lending tercatat lebih buruk dibandingkan bank maupun multifinance. Hal tersebut dapat ditengok dari tingkat wanprestasi 90 hari (TWP 90).
Indikator TWP 90 pinjol per Juli 2023 cenderung meningkat menjadi sebesar 3,47%. Terdapat pinjaman mecet senilai Rp 1,94 triliun dari total outstanding pinjaman mencapai Rp 55,98 triliun.
Mayoritas pinjaman macet berasal dari kategori peminjam perseorangan dengan nilai Rp 1,51 triliun oleh sebanyak 710 ribu entitas. Sementara sisa pinjaman macet senilai Rp 430,10 miliar dikontribusikan oleh 439 entitas badan usaha.
Dari rasio pinjaman mecet tersebut, maka bank dan multifinance punya kualitas yang lebih baik. Sektor perbankan mencatat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) per Juli 2023 secara gross sebesar 2,51% dan neto sebesar 0,80%. Adapun di multifinance, pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross tercatat di level 2,69% per Juli 2023.
Baca Juga:
Judi Online Dongkrak Kredit Macet PinjolOJK dalam beberapa waktu belakangan memang punya fokus tersendiri terhadap entitas pinjol yang tercatat memiliki rasio pinjaman macet di atas 5%. OJK telah melayangkan surat pembinaan dan meminta action plan untuk entitas-entitas yang dimaksud memperbaiki kualitas portofolio pinjamannya.
Perkembangan dari pinjaman macet ini juga telah diakui pelaku industri fintech p2p lending menjadi salah satu fokus perbaikan ke depan. Ketua Klaster Produktif AFPI Reynold Wijaya sempat menyatakan bahwa saat ini agresifitas penyaluran bukan menjadi fokus utama pelaku usaha fintech p2p lending, melainkan menjaga dan memperbaiki kualitas pinjaman.
“Oleh karena itu, fokus saat ini tidak hanya pada target angka, namun perlu diimbangi dengan kualitas pendanaan yang baik, demi menjaga portofolio pendanaan tetap sehat,” ujar Reynold kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






