Minggu, 21 Juni 2026

Perbaiki Kualitas, Reasuransi Lakukan Pencadangan Besar-Besaran

Penulis : Prisma Ardianto
23 Jun 2024 | 18:13 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi reasuransi. (Investor Daily/Prisma Ardianto)
Ilustrasi reasuransi. (Investor Daily/Prisma Ardianto)

JAKARTA, investor.id – Industri reasuransi masih dalam periode memperbaiki kualitas portofolio pada tahun 2024 ini. Perbaikan dimaksud salah satunya dengan melakukan pencadangan yang memadai.

Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik Trinita Situmeang mengungkapkan bahwa kinerja keuangan reasuransi belum sepenuhnya pulih. Posisi hasil underwriting masih dalam tren penyusutan, khususnya karena adanya pencadangan yang besar oleh pihak reasuransi.

“Jadi memang ada (kenaikan) yang besar di pencadangan, betul. Ada beberapa market loss yang besar, yang tentunya reasuransi umum itu jadi punya liabilitas yang besar juga. Ini ada transfer risiko dari perusahaan asuransi ke reasuransi,” ungkap Trinita dalam konferensi pers, baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

Kinerja industri asuransi memang masih belum pulih. Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba tahun berjalan reasuransi terkontraksi 31,54% year on year (yoy) menjadi Rp 287,43 miliar pada April 2024.

Faktor utamanya adalah hasil underwriting yang susut cukup dalam sejumlah 78,96% menjadi Rp 106,67 miliar. Seperti yang diungkapkan Trinita, beban pencadangan klaim jadi salah satu indikatornya, yaitu naik sampai dengan 51,55% (yoy) menjadi sebesar Rp 461,90 miliar.

Hal tersebut juga ditegaskan dalam neraca liabilitas dari industri reasuransi yang mencatat cadangan klaim naik 10,62% (yoy) menjadi sebesar Rp 16,38 triliun pada April 2024.

Padahal, reasuransi telah membukukan katalis positif, di mana pendapatan premi naik 23,93% (yoy) menjadi Rp 10,48 triliun. Begitu juga klaim bruto yang berhasil di tahan melandai dengan pertumbuhan -0,76% menjadi Rp 3,45 triliun.

Trinita menjelaskan, hasil underwriting yang menjadi indikator utama dalam mengukur profitabilitas dari reasuransi punya banyak komponen pembagi. Kendati premi meningkat dan klaim dalam tren menurun, pos pencadangan dan biaya-biaya lainnya bisa jadi masih jadi beban yang bisa menekan kinerja keuangan.

Perbaikan Besar-Besaran

Di sisi lain, Direktur Teknik dan Operasional Indonesia Re, Delil Khairat menyampaikan, saat ini industri reasuransi dalam negeri sebetulnya tidak terlalu fokus memacu sisi top line atau pendapatan premi. Ini telah dilakukan sejak 1 Januari 2023, di mana fokus industri adalah memperbaiki kualitas portofolio yang dimiliki.

“Jadi dampaknya masih akan berlanjut bahwa perusahaan asuransi tidak lagi terlalu fokus pada top line, tetapi pada kualitas bisnis,” ungkap Delil kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Dia menerangkan, langkah ini diambil atas kejadian pada tahun 2021 saat kinerja keuangan industri reasuransi secara keseluruhan ambruk. Beberapa yang memengaruhi adalah terlambatnya meresponshardening market, pandemi Covid-19, dan klaim asuransi kredit yang signifikan.

Delil menerangkan, industri reasuransi cenderung terlambat merespons hardening market, mengingat siklus ini telah terjadi di pasar internasional mulai kuartal II-2018. Bahkan saat akan merespons, pandemi Covid-19 malah akan berlangsung. Praktis, industri baru mulai secara masif memperbaiki portofolionya sekitar lima tahun lamanya setelah hardening market di pasar internasional.

Hal ini dilakukan secara sekaligus setelah adanya kerugian besar yang alami industri reasuransi dalam negeri pada tahun 2021. Salah satunya diakibatkan oleh lonjakan klaim reasuransi kredit. Tiga faktor itu kemudian direspons perusahaan reasuransi dengan memperbaiki kontrak-kontrak yang ada.

“Setelah mengakhiri tahun 2021 dengan cukup buruk, maka bermula pada tahun 1 Januari 2023 adanya treaty renewal, industri reasuransi melakukan perbaikan term & condition yang cukup signifikan, sepertinya sudah membawa hasil sampai posisi April 2024 ini,” kata dia.

Di sisi lain, reasuransi memang sudah semestinya berbenah mengingat akan segera berlaku pencatatan akuntansi IFRS 17. Di sini, maka perusahaan asuransi dan reasuransi harus berfokus pada kecukupan premi dari setiap risiko yang mereka ambil, sehingga kualitas portofolio terjaga memadai sesuai dengan permodalan yang dimiliki.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 5 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 36 menit yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 6 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 6 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 7 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia