NIM Mulai Merekah, Sektor Perbankan Siap-Siap Berpesta
JAKARTA, investor.id – Sektor perbankan menunjukkan tanda-tanda pemulihan profitabilitas setelah Bank Indonesia (BI) secara agresif memangkas suku bunga acuan (BI Rate) hingga empat kali sepanjang tahun ini. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan pada Juli 2025 mencapai 4,57% atau tertinggi di tahun ini.
Sebelumnya, perbankan menghadapi tantangan besar karena harus bersaing dengan instrumen investasi lain, yang membuat beban bunga deposito melejit hingga 196% secara tahunan (year on year/yoy). Situasi ini menekan NIM, meskipun suku bunga kredit juga disesuaikan.
Sebagai gambaran, NIM perbankan pada Juli 2025 tercatat sebesar 4,57%, naik 9 basis poin (bps) dari bulan sebelumnya. Posisi NIM tersebut juga menjadi yang tertinggi di tahun ini, usai jatuh ke level 4,39% pada Februari dan mendekati titik terendah selama lima tahun terakhir sebesar 4,31% pada Maret 2020.
Sejak saat itu, NIM secara perlahan bergerak naik hingga ke level 4,89%, namun kembali turun pada tahun ini karena musim suku bunga tinggi dalam waktu lama (high for longer) belum berakhir. Perang pendanaan menjadi tak terelakkan saat likuiditas di pasar relatif kering, Bagi bank, beban bunga deposito bisa terkerek secara signifikan.
Seperti yang telah terjadi hingga Juli 2025, beban bunga deposito bank umum melejit sampai dengan 196% yoy, menembus Rp 102,82 triliun. Sebagai perbandingan, beban bunga deposito hanya sebesar Rp 34,73 triliun pada Juli 2024 lalu.
Alhasil, bank memang mesti menyesuaikan dengan mengerek suku bunga kreditnya untuk tetap menjaga rasio NIM. Tapi tantangannya, penyaluran kredit tak bisa kencang, mengingat bank masih hati-hati karena perekonomian yang belum sepenuhnya pulih. Selain itu, likuiditas yang agak mengetat membuat bank agak menahan diri.
Kredit perbankan hingga Juli 2025 hanya tumbuh 7,03% yoy atau menandai perlambatan selama lima bulan berturut-turut. Sementara kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross berada di posisi 2,28% dan kredit berisiko (loan at risk/LAR) di level 9,68%.
Dengan demikian, kebijakan peningkatan suku bunga kredit menjadi cukup terbatas, bahkan belakangan bank harus rela memangkas suku bunga kreditnya untuk bisa tetap eksis dalam penyaluran kredit. Seperti yang terjadi pada paruh pertama tahun ini, suku bunga kredit mulai dipotong tapi suku bunga deposito untuk beberapa tenor tetap naik. Ini menjadi cukup menantang untuk NIM dijaga optimal.
Kini, musim paceklik di sektor perbankan telah memberikan tanda-tanda bakal berakhir. Perang pendanaan mulai reda, seiring Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk memangkas BI Rate hingga empat kali pada tahun ini sebesar 100 bps menjadi 5% per Agustus 2025. Menjadikan total pemangkasan sebesar 125 bps sejak BI Rate di posisi tertinggi pada medio 2024.
Siap-Siap Berpesta
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






