Minggu, 21 Juni 2026

Konflik Selat Hormuz Picu Risiko Baru, Industri Asuransi Kena Imbas Berantai

Penulis : Indah Handayani
25 Apr 2026 | 09:12 WIB
BAGIKAN
ilustrasi asuransi pengiriman di Selat Hormuz.
ilustrasi asuransi pengiriman di Selat Hormuz.

JAKARTA, investor.id — Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang belum mereda mulai memicu dampak luas, tidak hanya pada sektor energi global, tetapi juga merembet ke industri strategis lain, termasuk asuransi di Indonesia.

Sebagai salah satu jalur utama distribusi energi dunia, gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengacaukan rantai pasok global. Jika pembatasan atau penutupan jalur terus berlangsung, perusahaan logistik terpaksa melakukan penyesuaian rute yang lebih panjang dan mahal.

Bagi Indonesia, dampaknya cukup signifikan. Ketergantungan terhadap kawasan Teluk masih tinggi, dengan sekitar 20–25% kebutuhan minyak dan 30% kebutuhan gas domestik berasal dari wilayah tersebut. Selain energi, Indonesia juga mengimpor berbagai bahan baku penting seperti plastik, pupuk, logam, hingga bahan kimia untuk industri manufaktur.

ADVERTISEMENT

Kepala Departemen Marine & Aviation Indonesia Re Renny Rahmadi P mengatakan, tekanan terhadap industri asuransi lebih banyak datang dari dampak tidak langsung konflik. “Yang perlu diwaspadai adalah efek berantai dari gangguan logistik dan kenaikan bahan bakar minyak. Ini akan mendorong kenaikan nilai klaim atau claim inflation,” ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (25/4/2026).

Durasi pengiriman yang lebih lama meningkatkan risiko kerusakan barang, terutama untuk komoditas yang mudah rusak seperti makanan, obat-obatan, dan produk agrikultur. Hal ini berpotensi menaikkan klaim pada lini asuransi kargo dan properti.

Selain itu, gangguan distribusi juga dapat memicu klaim pada skema business interruption (BI), delay start-up (DSU), serta risiko kontinjensi lainnya akibat terhambatnya operasional bisnis.

Dampak konflik juga merembet ke sektor lain. Risiko gagal bayar dalam transaksi perdagangan meningkat, terutama untuk buyer di kawasan konflik. Saat ini, ekspor Indonesia ke Timur Tengah tercatat sekitar 3,5% dari total ekspor nasional.

Di sisi lain, pembatasan jalur penerbangan menuju kawasan Timur Tengah, yang menjadi hub penerbangan global seperti Qatar dan Uni Emirat Arab, berpotensi menekan lini bisnis asuransi perjalanan (travel insurance).

Kenaikan Biaya Impor

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 10 menit yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 38 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 7 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 7 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia