EBRD: Perang Ukraina Picu Gejolak Ekonomi Dunia
LONDON, investor.id – Perang Ukraina memiliki konsekuensi ekonomi yang besar untuk energi, makanan, inflasi, dan kemiskinan, menurut Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD).
Kepala ekonom EBRD Beata Javorcik berbicara kepada AFP tentang dampak dari serangan Rusia ke Ukraina, dari mana lebih dari tiga juta pengungsi telah melarikan diri hingga Minggu (20/3).
Pemberi pinjaman global tersebut memberikan miliaran untuk Ukraina, termasuk ‘paket ketahanan’ senilai 2,0 miliar euro (US$ 2,2 miliar) dari EBRD yang berbasis di London. Tetapi hingga saat ini tidak ada akhir yang terlihat dari konflik.
Krisis telah membuat harga komoditas meroket di tengah kekhawatiran pasokan, memicu inflasi yang sudah mencapai level tertinggi selama beberapa dekade.
“Biaya perang ini akan tergantung pada berapa lama pertempuran akan berlangsung. Sebagian besar negara berfungsi. Infrastruktur ada, sistem perbankan berfungsi, bisnis masih buka. Tapi itu sangat sulit untuk diukur,” tutur Javorcik, Minggu.
Ia mengatakan, angka pembangunan kembali Ukraina sebesar US$ 100 miliar berasal dari pemerintah Ukraina dan merupakan biaya infrastruktur maupun bangunan yang telah dihancurkan. Ini setara dengan sekitar dua pertiga dari produk domestrik bruto (PDB) negara.
Menurut pemerintah Ukraina, setengah dari perusahaan telah ditutup dan sisanya bekerja dengan kapasitas yang berkurang. Itu menunjukkan bahwa biaya ekonomi akan menjadi signifikan.
Tanya (T): Bagaimana prospek krisis pengungsi?
Jawab (J): Ini adalah situasi yang tragis. Begitu banyak orang harus kehilangan kehidupan dan mata pencaharian mereka, serta harus pindah ke tempat lain untuk menghindari konflik.
Tetapi apa yang diceritakan oleh pengalaman sejarah kepada kita adalah bahwa beberapa pengungsi tinggal di negara tuan rumah. Dan mereka berfungsi sebagai jembatan, sebagai orang yang membangun hubungan bisnis dengan negara asal mereka. Dan dengan cara ini memfasilitasi arus investasi dan perdagangan.
Pengalaman sejarah memberi tahu kita bahwa, jika konflik terus berlanjut, jumlah pengungsi bisa mencapai enam juta jiwa. Skalanya sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya.
T: Bagaimana dengan peningkatan pasar komoditas?
J: Bahkan jika perang berhenti hari ini, konsekuensi dari konflik ini akan terasa selama berbulan-bulan mendatang dan itu akan mempengaruhi harga komoditas. Orang miskin akan lebih terpukul oleh harga energi yang lebih tinggi dan harga pangan yang lebih tinggi.
Itu berimplikasi pada kemiskinan dan stabilitas politik.
Rusia dan Ukraina bertanggung jawab atas 30% ekspor gandum secara global. Petani Ukraina belum menjual hasil panen tahun lalu. Pengiriman di Laut Hitam terhambat dan petani Ukraina tidak menanam tanaman baru.
Rusia dan Belarusia adalah pengekspor amonia dan kalium yang sangat penting, bahan untuk pupuk. Ada dampak pada energi terbarukan karena nikel, tembaga, platinum, dan paladium menjadi input industri.
Jika Anda berpikir tentang gas yang mencapai rekor tertinggi di Eropa dan minyak yang tinggi secara global, semua ini mengarah pada inflasi.
T: Apa dampak sanksi terhadap Rusia?
J: Ada biaya ekonomi jangka pendek yang akan dihasilkan dari perdagangan internasional yang hilang dan kepercayaan yang lebih rendah.
Kita bisa berbicara tentang hilangnya kepercayaan konsumen, nilai rubel yang hilang, dan sebagainya. Tetapi mungkin yang lebih menarik adalah biaya jangka panjangnya.
Apabila, bahkan setelah konflik berakhir, Rusia dianggap sebagai tujuan investasi yang berisiko, atau jika nasionalisasi muncul seperti yang telah kita dengar dalam pernyataan (Presiden) Vladimir Putin, ini akan merusak reputasi Rusia.
Jika sanksi ekspor produk teknologi tinggi terus berlanjut, maka Anda kehilangan akses ke pengetahuan yang terkandung dalam barang modal. Dan kemudian mungkin juga ada hilangnya aliran ilmuwan, pelajardi kedua arah.
T: Apakah ekonomi dunia akan terpukul?
J: Konflik terjadi pada saat sudah ada perlambatan ekonomi global, sehingga harga energi yang lebih tinggi akan lebih mengerem pertumbuhan. Dan inflasi yang lebih tinggi akan memaksa bank sentral untuk bereaksi dengan kenaikan suku bunga, yang juga akan berdampak buruk bagi pertumbuhan (ekonomi).
Jadi, konflik ini akan berdampak buruk pada ekonomi global. Tidak diragukan lagi.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaTag Terpopuler
Terpopuler



