Studi: Tiongkok Muncul Lagi Sebagai Pusat Penambangan Bitcoin
LONDON, investor.id – Penambang Bitcoin, yang menciptakan aset kripto (cryptocurrency) paling populer di dunia, aktif kembali di Tiongkok meskipun pemerintah melarang aktivitas intensif energi, menurut penemuan sebuah studi akademis.
Namun Amerika Serikat (AS) tetap menjadi negara terbesar untuk penambangan bitcoin, diikuti oleh Tiongkok di posisi kedua, menurut para peneliti dari Universitas Cambridge.
“Di Tiongkok, menyusul peningkatan mendadak dalam operasi penambangan rahasia ... negara itu telah muncul kembali sebagai pusat penambangan utama,” kata makalah penelitian itu, diterbitkan Selasa (18/5).
Aktivitas masyarakat di Tiongkok telah merosot pada pertengahan 2021 setelah pemerintah meluncurkan tindakan keras terhadap proyek penambangan bitcoin.
“Namun, tren dengan cepat berbalik ketika penambang Tiongkok mulai merelokasi operasinya,” jelasnya.
Tiongkok sekarang menyumbang lebih dari 21% dari hasil pertambangan, menurut para peneliti Cambridge yang memeriksa data dari September 2021 hingga Januari 2022.
Sementara AS mewakili hampir 40% aktivitas penambangan.
Bitcoin diperoleh atau sebutannya ‘ditambang’ dengan memecahkan teka-teki menggunakan komputer canggih yang mengonsumsi listrik dalam jumlah besar. Para penambang melakukannya dengan harapan mereka akan menerima bitcoin baru untuk melakukan validasi data transaksi.
Namun, sistem tersebut membutuhkan kekuatan pemrosesan komputer yang sangat besar untuk mengelola dan mengimplementasikan transaksi, yang memicu kekhawatiran mendalam atas dampak lingkungannya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

