Menteri Keuangan Baru Inggris Janji Akan Kendalikan Inflasi
LONDON, investor.id – Menteri Keuangan Inggris yang baru Nadhim Zahawi pada Selasa (19/7) akan menguraikan rencananya untuk mengendalikan inflasi dan merebut peluang Brexit, meskipun ada kekhawatiran Inggris akan terlalu jauh dalam deregulasi.
Zahawi menggantikan Rishi Sunak sebagai menteri keuangan setelah pengunduran diri Sunak di awal bulan ini. Ia akan menyampaikan visi dalam pidato pertamanya untuk peran di London's Mansion House (kediaman resmi wali kota city of London) di tengah periode politik yang bergejolak di Inggris.
Kepergian Sunak bersama tokoh-tokoh pemerintah lainnya menyebabkan pengunduran diri Perdana Menteri Boris Johnson dan sekarang pertarungan sengit dimulai untuk menjadi pemimpin berikutnya.
Baca Juga:
PM Inggris Boris Johnson Akan MundurZahawi akan berharap dapat mengesampingkan itu semua ketika dia berbicara dengan perwakilan bisnis London. “(Berjanji untuk) mengendalikan inflasi, mendorong pemulihan sektor swasta, dan memberikan visi pasca Brexit untuk layanan keuangan,” kata Kementerian Keuangan, Selasa.
“(Menteri akan berkomitmen untuk) mencabut ratusan undang-undang Uni Eropa yang dipertahankan dan menggantinya dengan pendekatan yang koheren dan gesit terhadap regulasi keuangan yang tepat bagi kita (di Inggris),” tulis kementerian tersebut dalam pernyataan resminya.
Zahawi menganut pandangan yang sama dengan pendahulunya, Sunak, yang telah menjanjikan “Big Bang” baru di sektor keuangan setelah deregulasi 1980-an. Adapun Sunak sekarang menjadi salah satu kandidat yang mencalonkan diri untuk mengambil alih posisi perdana menteri.
Pernyataan tersebut akan memicu kekhawatiran akan pertikaian dengan bank sentral Inggris (BoE), sementara beberapa laporan media mengatakan bahwa pemerintah akan berusaha mengurangi kekuasaan regulator.
Pejabat bank sentral, termasuk Gubernur BoE Andrew Bailey, telah membela independensi lembaga tersebut setelah dikritik terlalu malu-malu dalam memerangi inflasi.
Inflasi Inggris melonjak pada Mei 2022 ke puncak 40 tahun sebesar 9,1%, tingkat yang diperkirakan mencapai angka dua kali lipat tahun ini.
Sebuah laporan parlemen pada Juni 2022 memberi peringakan terhadap pelemahan yang tidak tepat dari standar peraturan Inggris yang kuat, yang dapat mengurangi ketahanan keuangan sistem keuangan Inggris dan merusak kepercayaan internasional pada sistem itu.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

