Raksasa Chip Taiwan TSMC: Perang Akan Hancurkan Pasokan Global
TAIPEI, investor.id – Kepala raksasa teknologi Taiwan TSMC memperingatkan bahwa serangan apapun ke pulau itu akan membuat pabriknya tidak dapat beroperasi. Pasalnya, ketegangan politik meningkat menjelang kunjungan potensial oleh Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi.
Pada Senin (1/8) Pelosi memulai tur Asia yang diselimuti kerahasiaan. Banyak pihak berspekulasi, tetapi tidak ada konfirmasi apakah dia akan berhenti di Taiwan.
Pemerintah Tiongkok daratan, yang menganggap Taiwan sebagai wilayahnya, berikrar bahwa pulau itu akan direbut suatu hari jika perlu dengan cara paksa. Pihaknya telah mengatakan bahwa kunjungan Pelosi akan dianggap sebagai provokasi besar.
Kehebohan di Tiongkok telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sementara kemungkinan adanya serangan meningkat di bawah kepemimpinan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Dalam wawancara langka dengan CNN yang ditayangkan Senin, Kepala TSMC Mark Liu menyampaikan peringatannya. “Tidak ada yang bisa mengendalikan TSMC dengan paksa,” tegasnya, Senin.
Perusahaan Manufaktur Semikonduktor Taiwan (TSMC) adalah salah satu pemasok utama microchip tercanggih di dunia dan pabriknya beroperasi dengan kapasitas penuh untuk mengatasi kekurangan global. Chip ini yang digunakan dalam berbagai hal, mulai dari ponsel pintar, mobil, hingga rudal.
“Jika Anda mengambil kekuatan militer atau invasi, Anda akan membuat pabrik TSMC tidak beroperasi. Ini adalah fasilitas manufaktur yang sangat canggih. Itu tergantung pada koneksi real time dengan dunia luar, dengan Eropa, dengan Jepang, dengan AS,” jelas Liu.
Perusahaan Taiwan itu mendominasi lebih dari setengah pasar semikonduktor global, dengan klien termasuk Apple dan Sony.
“Dari bahan hingga bahan kimia dan suku cadang, hingga diagnosis perangkat lunak rekayasa, dan adalah upaya semua orang untuk membuat pabrik ini dapat beroperasi,” kata Liu.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

