Sabtu, 4 April 2026

IMF: Ekonomi Global 2023 Gelap Gulita, Sejumlah Negara Masuk Resesi

Penulis : Triyan Pangastuti
9 Okt 2022 | 22:20 WIB
BAGIKAN
Seorang wanita berjalan melewati logo Dana Moneter Internasional (IMF) di kantor pusatnya di Washington, AS. (FOTO: REUTERS / YURI GRIPAS)
Seorang wanita berjalan melewati logo Dana Moneter Internasional (IMF) di kantor pusatnya di Washington, AS. (FOTO: REUTERS / YURI GRIPAS)

JAKARTA, investor.id – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memprediksi ekonomi global 2023 gelap gulita, ditandai dengan resesi keuangan di beberapa negara. Hal ini disebabkan ketidakstabilan di pasar keuangan.

"Kami memperkirakan negara-negara yang menyumbang sepertiga ekonomi dunia mengalami kontraksi ekonomi setidaknya dalam dua kuartal berturut-turut tahun ini atau tahun depan," ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam pidato di Georgetown University Amerika Serikat, dikutip dari laman resmi IMF, Minggu (9/10/2022).

Bahkan, dia menyatakan, pertumbuhan ekonomi akan terasa seperti resesi, karena pendapatan riil menyusut dan harga kompak mengalami kenaikan. Secara keseluruhan, IMF memperkirakan kerugian output global sekitar US$ 4 triliun selama 2022-2026. Hal ini menunjukkan terjadinya kemunduran besar bagi ekonomi dunia.

Advertisement

IMF telah menurunkan pertumbuhan ekonomi global sebanyak tiga kali menjadi hanya 3,2% tahun ini dan kembali turun tahun depan menjadi 2,9%. Ketidakpastian tetap sangat tinggi dalam konteks perang dan pandemi, sehingga mungkin ada lebih banyak guncangan ekonomi. Risiko stabilitas keuangan meningkat, penetapan harga aset yang cepat dan tidak teratur dapat diperkuat oleh kerentanan yang sudah ada sebelumnya, termasuk utang negara yang tinggi dan kekhawatiran atas likuiditas di segmen utama pasar keuangan," tutur dia.

Dengan demikian, dia menyatakan, IMF mendesak para pembuat kebijakan untuk tetap berada pada jalur memerangi inflasi. Di sisi lain, harus diingat, pengetatan kebijakan moneter terlalu agresif juga akan berisiko pada resesi.

"Pengetatan kebijakan moneter yang terlalu banyak dan terlalu cepat dapat mendorong banyak ekonomi ke dalam resesi yang berkepanjangan," ucap dia.

Sementara itu, dia mengatakan, prioritas kedua adalah menerapkan kebijakan fiskal yang bertanggung jawab pada kebijakan yang melindungi kaum rentan, tanpa menambahkan bahan bakar ke inflasi. Sebab, krisis biaya hidup makin berat, sehingga pemerintah harus menerapkan langkah-langkah fiskal yang tidak hanya sementara, tetapi ditargetkan dengan fokus tajam pada rumah tangga berpenghasilan rendah.

"Harga energi yang tinggi kemungkinan akan bertahan. Dalam keadaan ini, pemerintah dapat memberikan bantuan langsung kepada keluarga berpenghasilan rendah dan menengah serta meminimalkan penggunaan kontrol harga. Kita tahu mengendalikan harga untuk jangka waktu yang lama tidak terjangkau dan efektif," ucap dia.

Prioritas terakhir, kata dia, adalah bersama mendukung pasar negara dan ekonomi berkembang. Terlebih, saat ini, dolar menguat, yang menyebabkan biaya pinjaman semakin tinggi dan aliran modal asing keluar terjadi di beberapa negara. 

"Ini menyebabkan pukulan tiga kali lipat ke banyak pasar negara dan ekonomi berkembang. Probabilitas arus keluar portofolio dari pasar negara berkembang selama tiga kuartal berikutnya telah meningkat menjadi 40%. Itu bisa menjadi tantangan besar bagi negara-negara dengan kebutuhan pendanaan eksternal yang besar," ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi ekonomi global jatuh pada jurang resesi di 2023. Hal ini dipicu kenaikan suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara yang diperkirakan menghambat pertumbuhan ekonomi.

"Kenaikan suku bunga cukup esktrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023," ungkap Menkeu, baru-baru ini.

Dia mengatakan, tekanan inflasi global memicu kenaikan suku bunga di banyak negara serta berpotensi meningkatkan cost of fund dan lebih ketatnya likuiditas global. Menkeu memerinci suku bunga acuan Bank Sentral Inggris sudah naik 200 basis poin selama 2022. Begitu pula dengan Amerika Serikar (AS) yang sudah naik 300 bps sejak awal tahun, terutama di saat FOMC pekan lalu, di mana The Fed kembali menaikkan 75 bps untuk merespons inflasi 8,3%.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 24 menit yang lalu

Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Business 25 menit yang lalu

Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru

Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.
National 46 menit yang lalu

Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon

Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
International 48 menit yang lalu

Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur

Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.
Business 1 jam yang lalu

Perum Bulog Catat Stok Beras  4,4 Juta Ton, Lampaui Target 2026

Perum Bulog mencatat stok beras nasional 4,4 juta ton melebihi target serapan sebesar 4 juta ton. Swasembada pangan optimistis tercapai.
International 1 jam yang lalu

Trump Usulkan ’Golden Dome’ dan Anggaran Perang Rp 25,5 Kuadriliun

Presiden Trump usulkan anggaran militer AS 2027 US$ 1,5 triliun. Fokus pada sistem pertahanan Golden Dome dan pangkas dana domestik.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia