Dunia Masuk Resesi Ringan Jika Harga Minyak Tembus US$ 140 per Barel
JAKARTA, investor.id - Ekonomi global terancam masuk ke jurang resesi ringan jika kenaikan harga minyak mentah bertahan di level US$140 per barel selama dua bulan berturut-turut. Analisis terbaru dari Oxford Economics memperingatkan bahwa skenario tersebut akan memicu kontraksi pada sejumlah kekuatan ekonomi dunia, mulai dari Zona Euro hingga Jepang.
Mengutip APA pada Jumat (13/3/2026), berdasarkan laporan tersebut, bertahannya harga Brent di level US$ 140 yang disertai lonjakan harga gas alam dapat memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) riil global sebesar 0,7% pada akhir 2026.
Laju pemulihan dunia selanjutnya sangat bergantung pada seberapa cepat blokade di Selat Hormuz dapat diakhiri dan pengiriman pasokan energi dilanjutkan. Termasuk dampaknya terhadap seberapa cepat harga minyak menurun, ketegangan rantai pasok mereda, serta tekanan di pasar keuangan mulai melandai.
Analisis tersebut memproyeksikan aktivitas ekonomi di Inggris Raya, Jepang, dan Zona Euro bakal mengalami kontraksi ringan. Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan mendekati fase stagnasi sementara dengan angka pengangguran yang diprediksi meningkat tajam.
Tak hanya pertumbuhan yang terhambat, inflasi global juga diprediksi melonjak hingga menyentuh angka 5,8%. Risiko gangguan pasar energi bisa berkepanjangan dan dampak negatifnya menambah risiko penurunan terhadap prospek ekonomi global.
Meski laporan itu tampak suram, Oxford Economics menyebut peluang skenario terburuk ini relatif rendah. Saat berita ini ditulis, harga minyak Brent telah kembali bertengger di atas US$ 100 per barel, melonjak drastis dari kisaran US$ 60 pada pertengahan Februari lalu.
Oxford Economics dalam laporan berjudul "World Economic Prospects" untuk bulan Maret/April juga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 sebesar 0,1 poin persentase menjadi 3,0%, dibandingkan prospek bulan sebelumnya.
Penulis laporan mengasumsikan bahwa kenaikan harga minyak yang tajam dan berkelanjutan mungkin dapat dihindari. Namun, risiko gangguan pasar energi bisa berkepanjangan dan dampak negatifnya menambah risiko penurunan terhadap prospek ekonomi global.
Lebih lanjut, dampak juga dapat menjalar oleh aksi jual di pasar keuangan, gangguan rantai pasokan di luar pasar energi, dan efek yang lebih luas dari menurunnya aspek kepercayaan pasar.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






