JPMorgan Membeli Aset First Republik Bank
NEW YORK, investor.id – JPMorgan Chase & Co menyampaikan pada Senin (1/5/2023) membeli sebagian besar aset First Republic Bank (FRC). Langkah ini diambil setelah regulator keuangan Amerika Serikat (AS) menutup kreditur bermasalah itu pada akhir pekan lalu, sekaligus menandai kegagalan ketiga dari bank besar AS dalam dua bulan.
Berdasarkan kesepakatan, yang dilakukan setelah lelang, JPMorgan bakal menggelontorkan US$ 10,6 miliar kepada Perusahaan Penjamin Simpanan Federal AS (US Federal Deposit Insurance Corp/FDIC) untuk membeli sebagian besar aset bank yang berbasis di San Francisco – yang mana kegagalannya merupakan yang terbesar sejak “Washington Mutual” pada 2008.
JPMorgan – yang merupakan bank terbesar di AS – juga telah menandatangani perjanjian pembagian kerugian dengan FDIC atas pinjaman keluarga, perumahan dan komersial yang dibelinya. Namun, mereka tidak akan mengambil utang korporat atau saham preferen First Republic Bank.
Baca Juga:
Penjualan Saraswanti Melonjak 81,79%Kesepakatan ini memungkinkan First Republic tetap bertahan dan menghindari regulator dari keharusan mengasuransikan semua deposito bank, seperti yang harus mereka lakukan ketika dua bank lainnya runtuh pada Maret.
Minggu lalu, First Republic mengungkapkan telah mengalami kerugian lebih dari US$ 100 miliar di kuartal I dan sedang menjajaki berbagai opsi, sehingga meningkatkan tekanan di sektor perbankan.
Sebagai informasi, perbankan global diguncang oleh penutupan Silicon Valley Bank dan Signature Bank pada Maret, sementara Credit Suisse Swiss terpaksa menerima penyelamatan dari rivalnya, UBS.
Berdasarkan laporan, saham First Republic anjlok 43,3% di perdagangan premarket pada Senin sebelum akhirnya dihentikan. Tahun ini, saham bank telah kehilangan 97% dari nilainya. Sementara saham JPMorgan naik 2,7%.
“Ketika masih SVB (yang terkena krisis), mudah untuk menyalahkan manajemen. Namun, sekarang setelah kita melihat polanya, terbukti bahwa The Fed telah bergerak terlalu jauh, terlalu cepat, dan merusak banyak hal,” tutur Chairman dan Anggota Pengelola Great Hill Capital Thomas J. Hayes, yang dilansir Reuters.
The Federal Reserve (The Fed) AS seperti diberitakan, terus-menerus menaikkan suku bunga acuannya sejak tahun lalu, meskipun ada seruan untuk jeda ejenak setelah gejolak perbankan Maret.
Menurut perangkat FedWatch CME Group, para investor telah memperkirakan 90% kemungkinan penaikan suku bunga sebesar 25 basis poin usai pertemuan kebijakan bank sentral selama dua hari yang berakhir Rabu (03/05/2023).,
JPMorgan sendiri adalah salah satu dari beberapa pembeli yang tertarik, selain PNC Financial Services Group, dan Citizens Financial Group Inc, yang mengajukan penawaran akhir pada Minggu (30/04/2023) dalam lelang regulator AS. Demikian menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Saham PNC turun 2,5% dalam perdagangan premarket.
Melangkah Maju
Di sisi lain, Departemen Perlindungan Keuangan dan Inovasi California (California Department of Financial Protection and Innovation) mengatakan telah mengambil alih First Republic, dan FDIC akan bertindak sebagai penerimanya.
Dalam pernyataan, FDIC memperkirakan bahwa biaya yang harus ditanggung oleh Dana Penjamin Simpanan (Deposit Insurance Fund/DIF) adalah sekitar US$13 miliar. Namub, biaya akhir akan diketahui ketika FDIC mengakhiri masa kurator.
Departemen Keuangan (Depkeu) AS pun menyambut baik resolusi tersebut, dengan mengatakan bahwa proses pengambilalihan dilakukan dengan biaya termurah bagi DIF.
Dikatakan juga bahwa JPMorgan telah mengambil alih semua simpanan bank tersebut, dan akan membayar US$ 25 miliar dari US$ 30 miliar simpanan bank-bank besar yang disetorkan ke First Republic pada Maret. Sedangkan, JPMorgan yang berbasis di New York akan mengambil alih US$ 173 miliar pinjaman, US$ 30 miliar sekuritas, dan US$ 92 miliar deposito.
“Bisnis-bisnis yang diakuisisi akan diawasi oleh Co-CEO Consumer and Community Banking (CCB) JPMorgan, Marianne Lake dan Jennifer Piepszak,” demikian dikatakan dalam sebuah pernyataan.
Penyelamatan itu dilakukan kurang dari dua bulan setelah para nasabah bank AS itu bergegas menarik simpanannya dan memaksa intervensi The Fed dengan mengambil langkah-langkah darurat untuk menstabilkan pasar. Kegagalan tersebut terjadi setelah Silvergate yang berfokus pada kripto dilikuidasi secara sukarela.
“Pemerintah mengundang kami dan pihak-pihak lain untuk melangkah maju, dan kami melakukannya. Kekuatan finansial, kapabilitas, dan model bisnis kami memungkinkan kami untuk mengembangkan tawaran untuk melaksanakan transaksi dengan cara meminimalkan biaya bagi Lembaga Penjamin Simpanan,” ujar Chairman dan CEO JPMorgan Jamie Dimon.
JPMorgan pun berharap mencapai keuntungan satu kali setelah pajak sekitar US$ 2,6 miliar pasca kesepakatan, yang tidak mencerminkan sekitar US$ 2 miliar biaya restrukturisasi setelah pajak yang mungkin akan terjadi dalam 18 bulan ke depan.
Dikatakan JPMorgan bahwa bank tersebut bakal memiliki permodalan yang sangat baik dengan rasio modal inti (common equity tier one/CET1) yang konsisten dengan target 13,5% pada kuartal I-2024 dan menjaga penyangga likuiditas yang sehat.
“84 kantor bank yang gagal di delapan negara bagian akan dibuka kembali sebagai cabang JPMorgan Chase Bank mulai Senin,” tambahnya.
Tercatat, JPMorgan telah melakukan aksi beli sejak 2021, mengakuisisi lebih dari 30 perusahaan dalam kesepakatan senilai lebih dari US$ 5 miliar. Sementara regulator AS cenderung lambat dalam menyetujui transaksi bank besar dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan Presiden AS Joe Biden juga menindak tegas praktik-praktik anti-persaingan. (sumber lain)
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






