IMF: Kredit Belum Melambat, Suku Bunga Fed Masih Bisa Naik
WASHINGTON, investor.id – Dana Moneter Internasional (IMF) melihat angka pinjaman di Amerika Serikat (AS) belum berkurang secara signifikan. Belum cukup banyak bank yang menarik kembali pinjaman, sehingga Federal Reserve (Fed) dinilai belum perlu mengubah arah kebijakan kenaikan suku bunga bahkan bisa melakukan lebih banyak stimulus ekonomi.
“Kami belum melihat perlambatan yang signifikan dalam pinjaman. Ada beberapa, tetapi tidak dalam skala yang akan menyebabkan The Fed mundur (dari kebijakan menaikkan suku bunga),” kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dilansir dari CNBC, Senin (5/6).
Federal Reserve dalam laporan bank Mei 2023 memperingatkan bank-bank pemberi pinjaman khawatir tentang kondisi di masa depan. Problemnya, masalah di lembaga keuangan menengah di AS menyebabkan bank memperketat standar pinjaman untuk rumah tangga dan bisnis.
Petugas pinjaman Fed menambahkan pihaknya memperkirakan masalah ini akan berlanjut selama tahun depan, karena perkiraan pertumbuhan yang lebih rendah dan kekhawatiran atas aliran keluar simpanan dan berkurangnya toleransi terhadap risiko.
“Saya tidak bisa cukup menekankan kita berada dalam lingkungan yang sangat tidak pasti. Oleh karena itu, perhatikan tren dan (bergerak) gesit, sesuaikan jika tren berubah,” ujar Georgieva dengan nada memperingatkan.
Komentar IMF tentang laju perlambatan pinjaman global muncul setelah Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas pada April mengatakan perbankan sekarang berada dalam “situasi yang lebih genting”. Hal ini akan menimbulkan risiko bagi perkiraan IMF untuk pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,8% untuk tahun ini.
Mayoritas bank sentral global utama, termasuk Federal Reserve AS, telah memperketat kebijakan moneter secara agresif untuk menjinakkan inflasi yang melonjak.
Sementara itu, utang global dunia telah membengkak mendekati rekor tertinggi US$ 305 triliun, menurut data Institute of International Finance (IIF). Lembaga ini mengatakan dalam laporan Mei, tingkat utang yang tinggi dan suku bunga telah menyebabkan kekhawatiran lebih lanjut tentang pengaruh dalam sistem keuangan.
Sedikit Stimulus Lagi
Karena IMF belum melihat pelambatan yang signifikan dalam pinjaman yang akan mendorong Fed untuk membalikkan arah kebijakannya, Georgieva mengatakan bahwa dikombinasikan dengan laporan pekerjaan AS yang tangguh pada Jumat (2/6), IMF dapat menaikkan lebih lanjut.
“Tekanan yang datang dari pendapatan naik dan pengangguran masih sangat, sangat rendah, berarti Fed harus tetap berada di jalur dan mungkin dalam pandangan kami, mereka mungkin perlu melakukan sedikit lebih banyak (stimulus ekonomi),” katanya.
Dia memproyeksikan tingkat pengangguran AS melampaui 4% hingga 4,5% dari kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Fed, setelah tingkat naik menjadi 3,7% pada Mei, menandai yang tertinggi sejak Oktober 2022.
Georgieva juga berkomentar tentang pemerintah AS yang mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) plafon utang yang ditandatangani oleh Presiden AS Joe Biden pada akhir pekan lalu.
“Apa yang telah disepakati, dalam konteks (yang) disepakati, secara umum, merupakan hasil yang baik. Di mana letak masalahnya adalah perdebatan berulang seputar plafon utang, menurut pandangan kami, tidak terlalu membantu. Ada ruang untuk memikirkan kembali bagaimana melakukannya,” tuturnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






