Inflasi Inggris Masih Tinggi, Mematahkan Ekspektasi Perlambatan
LONDON, investor.id – Laju inflasi Inggris bertahan di level 8,7% pada Mei 2023. Laporan yang dirilis pada Rabu (21/06/2023) ini mematahkan ekspektasi terjadinya perlambatan. Kondisi ini makin menekan Bank of England (BOE), karena hari ini diprediksi menaikkan lagi suku bunga untuk ke-13 kalinya secara berturut-turut guna meredam pertumbuhan harga yang masih tinggi.
Pasar pun meningkatkan pertaruhannya terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut menyusul keluarnya laporan yang menunjukkan inflasi naik ke level tertinggi sejak 1992 itu. Angka inflasi tersebut membuat laju inflasi Inggris sekali lagi menjadi yang tercepat di antara negara-negara maju lainnya.
Perdana Menteri (PM) Rishi Sunak sendiri mengatakan tidak nyaman dengan catatan inflasi itu. Ia telah berjanji untuk mengurangi inflasi separuhnya sepanjang tahun ini. Dan kemungkinan besar akan meningkatkan biaya hipotek bagi jutaan pemilik rumah, sebelum pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2024.
Menurut hasil survey Reuters terhadap para ekonom, tingkat inflasi harga konsumen (IHK) tahunan itu tadinya diprediksi turun menjadi 8,4% pada Mei. Atau makin menjauh dari level tertinggi dalam 41 tahun terakhir pada Oktober tahun lalu yang sebesar 11,1%.
“Angka-angka indeks harga konsumen Mei meningkatkan tekanan pada Komite Kebijakan Moneter untuk menaikkan suku bunga bank secara substansial dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Samuel Tombs, kepala ekonom Inggris di Pantheon Macroeconomics, yang dilansir Reuters.
Nilai tukar poundsterling dilaporkan sempat melonjak terhadap doar AS dan euro setelah angka-angka tersebut dirilis, dan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor dua tahun – yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga – naik ke level tertinggi sejak Juli 2008.
Saat ini pasar melihat peluang 40% bahwa BoE bakal menaikkan suku bunga sebesar 0,50 poin persentase menjadi 5% pada Kamis (22/06/2023), daripada pergerakan 0,25 poin yang diperkirakan sebelumnya. Mereka juga melihat peluang 60% untuk suku bunga mencapai 6% pada Desember mendatang.
“Angka-angka hari ini memperkuat argumen bagi pemerintah untuk tetap berpegang pada kebijakannya. Jika Anda melihat apa yang terjadi di negara-negara lain, Anda bisa melihat bahwa kenaikan suku bunga memang menurunkan inflasi dari waktu ke waktu, hal itu akan terjadi di sini,” demikian penuturan Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Jeremy Hunt kepada para wartawan.
Tertinggi
Sebagai informasi, inflasi Inggris mulai meningkat pada 2021, di saat kebanyakan negara menghadapi hambatan rantai pasokan ketika keluar dari pandemi Covid-19. Hambatan ini pun naik tajam setelah Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022 dan menyebabkan harga gas alam melonjak di seluruh Eropa.
Namun, inflasi di Inggris ternyata lebih lambat turun dibandingkan di tempat lain, sebagian dikarenakan subsidi energi. Tetapi kondisi ini makin meningkat sebagai akibat dari kenaikan harga besar-besaran, yang tampaknya tertanam di seluruh bidang ekonomi.
Sedangkan Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics/ONS) menyebutkan inflasi inti – secara tak terduga naik dari 6,8% menjadi 7,1% dan merupakan angka tertinggi sejak Maret 1992. Inflasi inti sendiri merupakan alat ukur, yang tidak mencakup harga makanan, energi, alcohol dan tembakau yang mudah naik turun, serta dipandang BoE sebagai panduan yang baik untuk mendasari tekanan harga.
Indeks lain yang didasari tekanan adalah, inflasi harga jasa yang juga mencapai level tertinggi sejak 1992, yakni 7,4%. Untuk indeks ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan upah yang cepat dan pasar kerja pasca-pandemi di Inggris yang ketat.
“Harga tiket pesawat naik lebih dari setahun yang lalu dan berada di tingkat lebih tinggi dari biasanya pada Mei. Kenaikan harga mobil bekas, acara-acara musik dan permainan komputer juga berkontribusi pada inflasi yang tetap tinggi,” demikian disampaikan Kepala Ekonom di ONS, Grant Fitzner.
Dikatakan juga bahwa Inflasi harga makanan dan minuman turun sedikit dari 19,0% pada April menjadi 18,3%.
Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics, mengungkapkan sedang memperkirakan BoE menaikkan suku bunga setinggi 0,50 poin persentase pada Kamis (22/06/2023) setelah angka-angka terakhir dirilis.
“Masalahnya adalah lonjakan inflasi inti baru-baru ini, dan akselerasi kembali pertumbuhan upah menunjukkan bahwa tekanan inflasi domestik masih menguat. Hal ini menunjukkan bahwa bank sentral Inggris mungkin memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dibandingkan The Fed atau Bank Sentral Eropa (ECB),” kata Dales.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

